'LARAS FOOD` adalah merek dagang yang digunakan oleh Family food dan bergerak dibidang pengolahan hasil perikanan di desa Tenaru Kecamatan Driyorejo - Gresik.
Menyediakan berbagai jenis produk frozen yaitu :
seafood crispy deli,
shrimp spring roll,
martabak udang,
seafood siu mai,
seafood kekeian,
drumb stik,
tail on shrimp dumpling,
tail on shrimp roll,
nuget kepiting,
nuget udang,
shrimp puff.
ebi furai,
chiken katsu,
ekado,
breaded fish,
LARAS FOOD telah mendapatkan izin dari DEPKES dan HALAL MUI
Semboyan kami ;
MUTU BERSAING DENGAN HARGA TERJANGKAU
Pemilik/Pengusaha : Ibu Ririn
No. HP : 62081230552686
Kamis, 29 Agustus 2013
Rabu, 24 Juli 2013
PEMANFAATAN PEKARANGAN
PENDAHULUAN
PENATAAN PEKARANGAN
POTENSI PENGEMBANGAN
Komoditi yang diusahakan dipekarangan sebaiknya disesuaikan dengan kesesuaian komoditi dengan daerah yang bersangkutan, peluang pasar, dan nilai guna meliputi:
DAUR ULANG DI PEKARANGAN
BUDIDAYA ORGANIK
POLA TANAM VERTIKAL (TANAM BERSUSUN)
TABULAPOT
Pekarangan adalah sebidang tanah darat
yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal dan jelas
batas-batasnya, karena letaknya di sekitar rumah, maka pekarangan
merupakan lahan yang mudah diusahakan oleh seluruh anggota keluarga
dengan memanfaatkan waktu luang yang tersedia. Pemanfaatan pekarangan
yang baik dapat mendatangkan berbagai manfaat antara lain:
- Sumber pangan, sandang dan papan penghuni rumah
- Sumber plasma nutfah dan ragam jenis biologi,
- Lingkungan hidup bagi berbagai jenis satwa,
- Pengendali iklim sekitar rumah dan tempat untuk kenyamanan,
- Penyerap karbondioksida dan penghasil oksigen,
- Tempat resapan air hujan dan air limbah keluarga ke dalam tanah,
- Melindungi tanah dari kerusakan erosi
- Tempat pendidikan bagi anggota keluarga
PENATAAN PEKARANGAN
Pekarangan merupakan lahan di sekitar
rumah, karena itu pemanfaatan pekarangan bukan hanya mempertimbangkan
hasil, tapi juga perlu mempertimbangkan aspek keindahan. Sebagai acuan,
penataan pekarangan dapat dilakukan sebagai berikut :
- Halaman depan (buruan):, tanaman hias, pohon buah, tempat bermain anak, bangku taman, tempat menjemur hasil pertanian
- Halaman samping (pipir): tempat jemur pakaian, pohon penghasil kayu bakar, bedeng tanaman pangan, tanaman obat, kolam ikan, sumur dan kamar mandi
- Halaman belakang (kebon): bedeng tanaman sayuran, tanaman bumbu, kandang ternak, tanaman industri
POTENSI PENGEMBANGAN
Komoditi yang diusahakan dipekarangan sebaiknya disesuaikan dengan kesesuaian komoditi dengan daerah yang bersangkutan, peluang pasar, dan nilai guna meliputi:
- Tanaman pangan: umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbuan, obat
- Tanaman bernilai ekonomi tinggi: buah, sayuran, hias (bunga potong, tanaman pot, tanaman taman, anggrek)
- Ternak: ternak unggas hias, ternak petelur, ternak pedaging
- Ikan: ikan hias, ikan produksi daging, pembenihan dll.
DAUR ULANG DI PEKARANGAN
Usahatani di pekarangan dapat
dilakukan dengan biaya yang lebih murah karena, limbah yang dihasilkan
dapat di daur ulang untuk kepentingan usahatani berikutnya:
- Sampah pekarangan dan sampah rumah tangga dapat dikomposkan dengan membuat lubang sampah atau bak-bak pengomposan.
- Selain untuk pupuk, sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan
- Pupuk kandang dan endapan lumpur dari kolam digunakan untuk pupuk bagi tanaman
BUDIDAYA ORGANIK
Budidaya tanaman di pekarangan
sebaiknya dilakukan secara organik atau sesedikit mungkin menggunakan
bahan kimia. melalui upaya tersebut bahan pangan yang dihasilkan lebih
sehat.
- Bahan organik berasal dari sisa tanaman, limbah ternak, libah rumah tangga atau lumpur endapan kolam ikan.
- Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan biodekomposer yang banyak dijual di pasaran ( EM4, STARDEC, BIODEC, dan lain-lain)
POLA TANAM VERTIKAL (TANAM BERSUSUN)
Pola tanam vertikal merupakan usaha
pertanian dengan memanfaatkan lahan semaksimal mungkin dengan
memanfaatkan potensi ketinggian, sehingga tanaman yang diusahakan per
satuan luas lebih banyak. Pola ini selain menghemat tempat juga hemat
dalam penggunaan pupuk dan air
- Media tanam dapat menggunakan media campuran tanah, pupuk kandang dan pasir/sekam dengan perbandingan 1:1:1 yang ditempatkan pada bak-bak tanaman (paralon, bambu, pot) yang diatur bersusun ke atas..
- Tanaman yang menginginkan keteduhan diletakan paling bawah dan yang lebih suka panas diletakkan di atas.
TABULAPOT
Tabulapot adalah menanam tanaman buah-buahan (bisa tanaman lainnya: bunga) di dalam pot.
- Media tanam harus mampu menopang tanaman, dapat menyediakan hara, air dan aerasi yang baik (sama dengan untuk pola tanam vertikal)
- Pot yang kurang baik, akan menghasilkan tata udara yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan untuk perkembangan akar.
PASCA PANEN JAGUNG
Pasca
panen merupakan kegiatan yang menentukan terhadap kualitas dan
kuantitas produksi, kesalahan dalam penanganan panen dan pasca panen
dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bahkan produk kehilangan
nilai ekonomi. Karena itu penanganan pasca panen secara benar perlu
mendapat prioritas dalam proses produksi usahatani
Menurut
para ahli dalam proses produksi jagung, energi yang dibutuhkan untuk
kegiatan produksi sekitar 32% dari total energi yang dibutuhkan
sedangkan untuk penanganan panen dan pasca panen mencapai 72%. Hal ini
menunjukan bahwa penanganan panen dan pasca panen secara benar
membutuhkan curahan kerja yang cukup besar, sebagai gambaran energi
yang dibutuhkan dalam proses produksi jagung sebagai berikut:
- Pembajakan 16%
- Pemeliharaan dan penanaman 12%
- Pemanenan 6%
- Pengeringan 60%
- Transportasi 6%
KEGIATAN PASCA PANEN JAGUNG
Pasca
panen adalah tahapan kegiatan sejak pemungutan hasil di lapangan sampai
siap untuk dipasarkan, sedangkan penanganan pasca panen merupakan
tindakan yang disiapkan atau dilakukan pada hasil pertanian agar hasil
pertanian siap dan aman untuk dikonsumsi atau diolah lebih lanjut oleh
industri.
PENGARUH KEGIATAN PASCA PANEN
TERHADAP MUTU JAGUNG
Kerusakan
jagung akibat penanganan pasca panen yang salah dapat terjadi pada
setiap tahapan kegiatan karena Jagung membutuhkan penanganan yang cepat
setelah panen. Beberapa kegiatan pasca panen yang berpengaruh terhadap
mutu jagung sbb.
Tabel 1. Kegiatan Pasca Panen yang Berpengaruh Terhadap Kerusakan Jagung
Kegiatan
|
Kadar air
|
Butir Rusak
|
Butir warna lain
|
Kotoran
|
Pemanenan
|
V
|
V
|
V
|
V
|
Pengangkutan
|
-
|
-
|
-
|
V
|
Pengeringan
|
V
|
V
|
V
|
V
|
Pemipilan
|
V
|
V
|
-
|
V
|
Penundaan
|
V
|
V
|
V
|
-
|
Penyimpanan
|
V
|
V
|
V
|
V
|
Keterangan:
V = berpengaruh
- = tidak berpengaruh
BENTUK KERUSAKAN BIJI JAGUNG
a. Rusak Fisik
Berupa
kerusakan endosferm, terutama disebabkan sering terjadinya perubahan
kadar air, perubahan kadar air disebabkan oleh cuaca seperti panas,
hujan, pergantian siang dan malam. Butir retak dalam proses selanjutnya
dapat menjadi butir pecah, juga dapat disebabkan oleh proses pemipilan
dengan menggunakan alat pemukul atau mesin perontok yang kurang
sempurna.
b. Rusak Bilogis
Disebabkan
oleh kegiatan selama penyimpanan seperti hama, jamur, dan mikroba.
Padaserangan hama sebagian endosferm dimakan dan sisanya berupa butir
berbetuk biji cacat. Biji cacat mudah mengalami oksidasi asam lemak,
menghasilkan asam lemak bebas dan memberikan bau tidak enak. Hama tikus
merupakan sumber kontaminasi jagung yang berupa bulu dan kotoran
sehingga mutu jagung menjadi rendah
c. Rusak Kimia
Disebabkan
adanya dekomposisi kimia selama penyimpanan, seperti penurunan kadar
karbohidrat, protein, dan lemak karena metabolisme baik oleh serangga
dan mikroba maupun oleh biji-bijian yang disimpan. Rusak kimia tidak
dapat diamati secara visual.
PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN JAGUNG
WAKTU PANEN
Umur panen jagung tergantung dari masing-masing varitas yang ditanam, tetapi biasanya 2 bulan setelah 50% keluar rambut. Umur panen pada beberapa varietas jagung sbb
Tabel 2. Umur Panen Potensi Hasil Dan Rata-Rata Hasil Berbagai Varietas Jagung
Varietas
|
Umur
|
Potensi Hasil
(Ton/ha)
|
Rata- rata
Hasil (Ton/ha)
|
C5
|
95-105
|
-
|
8,0
|
C6
|
98-105
|
-
|
10-10,3
|
C7
|
95-105
|
10-12,4
|
8,1
|
Pioneer 10
|
93-117
|
10-11
|
7,66
|
Pioneer 11
|
96-124
|
10-12
|
7,66
|
Pioneer 12
|
92-120
|
10-12
|
8,105
|
Pioneer 13
|
90-115
|
10-11
|
8,027
|
Pioneer 14
|
89-112
|
10-11
|
7,578
|
CPI -1
|
97
|
-
|
6,2
|
CPI- 2
|
97
|
8-9
|
6,2
|
IPB 4
|
100-105
|
-
|
6,6
|
Semar 1
|
95-100
|
8-9
|
5,3-6,4
|
Semar 2
|
91
|
-
|
5,0-6,1
|
Semar 3
|
94
|
8-9
|
5,3
|
Secara visual, jagung sudah siap dipanen bila :
· Batang, daun dan kelobot berubah menjadi kuning atau telah mengering
· Klobot kering berwarna kuning dan bila dikupas biji mengkilap.
· Bila biji ditekan dengan kuku tidak berbekas.
· Terdapat bintik hitam pada bagian biji yang melekat pada tongkol
CARA PANEN
- Panen dilakukan pada kadar air 17-18%
- Sebelum
dipanen dapat dilakukan pemangkasan batang bagian atas untuk menurunkan
kadar air tongkol disertai dengan pengupasan klobot sebagian atau
seluruhnya
- Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan memutar tongkol berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan tangkai buah jagung. Pada lahan yang luas dan rata pemanenan sangat cocok bila menggunakan alat mesin
PERLAKUAN HASIL
Pemisahan Tongkol
Pemisahan tongkol dilakukan untuk memisahkan tongkol yang baik dan kurang baik. Dengan tujuan
- Menghindari Penularan Hama Penyakit
- Menjaga Kualitas Jagung Pipilan Yang Dihasilkan
- Memudahkan penanganan selanjutnya
Pengupasan
Jagung
dikupas pada saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan
selesai. Pengupasan dilakukan untuk menjaga agar kadar air di dalam
tongkol dapat diturunkan dan kelembaban di sekitar biji tidak
menimbulkan kerusakan biji atau mengakibatkan tumbuhnya cendawan.
Pengupasan dapat memudahkan atau memperingan pengangkutan selama proses
pengeringan.
Rabu, 26 Juni 2013
CARA MEMBUAT PESTISIDA NABATI
Untuk membuat pestisida nabati (pesnab) diperlukan bahan-bahan berupa
bagian dari tumbuhan tertentu, misalnya daun, biji, buah, akar dan
lainnya. Bahan-bahan tersebut diolah menjadi berbagai macam bentuk,
antara lain : cairan berupa ekstrak dan minyak, serta bentuk padat
(tepung dan abu). Contoh bentuk-bentuk hasil pengolahan pestisida nabati
antara lain sebagai berikut :
Beberapa Jenis Tanaman untuk Pestisida Nabati:
MIMBA (Azzadirachta indica)
- Bahan mentah yang berbentuk tepung (tepung nimba, tepung kunyit, tepung jahe).
- Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu. (minyak nimba, minyak krisan, minyak cengkeh, dll).
- Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida misalnya : serai, tembelekan (Lantana cemara)), daun bambu dan lain-lain.
- Mengalami degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari.
- Memiliki efek/pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan nafsu makan serangga walapun jarang menyebabkan kematian.
- Toksitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relatif lebih aman pada manusia (lethal dosage (LD) >50 Oral).
- Memiliki spektrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif.
- Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida sintetis.
- Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman.
- Cepat terurai dan aplikasinya harus lebih sering.
- Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan serangga/ memiliki efek lambat).
- Kapasitas produksinya masih rendah dan belum dapat dilakukan dalam jumlah massal (bahan tanaman untuk pestisida nabati belum banyak dibudidayakan secara khusus).
- Ketersediaannya di toko-toko pertanian masih terbatas
Beberapa Jenis Tanaman untuk Pestisida Nabati:
MIMBA (Azzadirachta indica)
- Senyawa aktif yang dikandung mimba adalah azadirachtin, meliantriol dan salanin seperti bawang dan rasanya sangat pahit. Berbentuk tepung dari daun,atau cairan iminyak dari biji/buah. Efektif untuk mencegah makan bagi serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik.
- Mimba juga dapat membuat serangga mandul, karena dapat menggangu hormon produksi dan pertumuhan serangga.
- Mimba mempunyai spektrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh lunak ( 200 spesies) antara lain : belalang, thrips, ulat, wereng, kupu-kupu putih, dll.
- Disamping itu mampu mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan antara lain penyebab ; embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat daun dan bercak daun. Dan mencegah bakteri pada embun tepung (powdery mildew).
- Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan serangga, yaitu disemprotkan pada daun dan juga dapat disiramkan pada akar tanaman untuk diserap akar atau mengendalikan hama dalam tanah.
- Senyawa yang ditemukan adalah rotenon. Rotenon dapat diekstrak menggunakan eter/aseton menghasilkan 2-4 % resin rotenon, dibuat menjadi konsentrat air.
- Rotenon mampu menyebabkan serangga untuk berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkena rotenon. Rotenon dapat dicampur dengan piretrin/belerang. Merupakan racun sel yang sangat kuat bagi serangga.
- Rotenon adalah racun berspktrum luas, sebagai racun perut dan kontak dan tidak sistemik. Berperan sebagai moluskisida, insektisida (seranga), akarisida (tungau).
- Senyawa yang ditemukan adalah Nikotin. Daun tembakau kering mangandung 2-8 % nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf bereaksi sangat cepat.
- Nikotin bertindak sebagai racun kontak untuk hama seperti ; ulat perusak daun, aphids, thrips, dan kutu daun serta sebagai pengendali jamur (fungisida).
- Kandungan aktif tanaman babadotan adalah saponin, flavanoid dan polifenol. Dan mengandung minyak atsiri.
- Mampu mencegah hama mendekati tanaman (penolak) dan mampu menghambat pertumbuhan larva menjadi pupa.
Minggu, 26 Mei 2013
BUDIDAYA KANGKUNG
I. PENDAHULUAN.
Kangkung
tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Kangkung
disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Berasal dari
India yangkemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China
Selatan, Australia dan bagian negara Afrika. Sentra Penanaman Kangkung
banyak ditanam di Pulau Jawa khususnya di Jawa Barat, juga di Papua,
Aceh Besar dsb. Tanaman kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk
konsumsi keluarga maupun untuk dijual kepasar.
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Tanaman
ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat
tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin Jumlah curah
hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000
mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat
dan subur, asalkan disekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan
demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga
kangkung dapat tumbuh di padang rumput,kebun/ladang yang agak rimbun.
Tanaman
kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari
yang cukup. Ditempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan
tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat
menghadapi panas terik dankemarau yang panjang. Apabila ditanam di
tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga
disukai konsumen. Suhu udara dipengaruhioleh ketinggian tempat, setiap
naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C.
Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan
daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.
2.2. Media Tanam
Kangkung
darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan
organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah. Tanaman kangkung darat
tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk.
Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air.
Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah
yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air
secara baik.
2.3.Ketinggian Tempat
Kangkung
dapat tumbuhdan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai
dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun
kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di
dataran rendah maupun didataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal
jangan dicampur aduk.
III. PEDOMAN TEKNISBUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Bibit Kangkung Darat
Dalam
pemilihan bibit harus disesuaikan dengan lahan (air atau darat). Karena
kalau kangkung darat ditanam di lahan untuk kangkung air produksinya
kurang baik, warna daun menguning, bentuk kecil dan cepat membusuk. Bibit
kangkung sebaiknya berasaldari kangkung muda, berukuran 20 -30 cm.
Pemilihan bibit harus memperhatikan hal-hal seperti berikut, batang
besar, tua, daun besar dan bagus. Penanamannya dengan cara stek batang,
kemudian ditancapkan di tanah. Sedangkan biji untuk bibit harus diambil
dari tanaman tua dan dipilih yang kering serta berkualitas baik.
3.1.2. Penyiapan Benih
Benih kangkung yang akan ditanam adalah stek muda, berukuran 20-30 cm, dengan jarak tanam 1,5 x 15cm.
Untuk benih dari biji kangkung diambil dari tanaman yang tua.
Benih yang diperlukan untuk seluas 10 m2 atau 2 bedengan ± 300 gram, jika tiap lubang diisi 2-3 butirbiji.
3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Biji
dengan ukuran diameter 3 mm, disebar dalam baris-baris berjarak 15 cm
dengan jarak kira-kira5 cm antara masing-masing biji. Kultivar yang
berbiji dapat tahan tanah lembab dan tumbuh baik dalam musim hujan.
3.1.4. Pemeliharaan Pembenihan/Penyemaian
Agar
diperoleh hasil panen yang baik, dalam pemeliharaan pembenihan kangkung
diperlukan penyiraman teratur dan kerap pada cuaca kering.
3.2. Pengolahan MediaTanam
3.2.1. Persiapan
Kangkung
air membutuhkan tempat-tempat yang ada genangan air. Bertanam kangkung
memerlukan tanah yang diberi pupuk kompos, kemudian dibuatkan
petak-petak/bedengan seperti tanaman sayuran lain. Tentang panjang
bedengan, tergantung kondisi lahan. Kemudian siapkan tugal dan tancapkan
di atas bedengan dengan jarak 20 x 20 cm.
3.2.2. Pembukaan Lahan
Tiga
minggu sebelum melakukan penanaman kangkung, sebaiknya tanah diolah
terlebih dahulu. Kemudian tanah dicampur dengan pupuk kompos atau pupuk
kandang sebanyak 10 ton perhektar, diberi air dengan ketinggian 5 cm,
dibiarkan tergenang air dan diberiurea 1 kuintal per hektar 3.2.3.
Pembentukan Bedengan Pembentukan bedenganuntuk tanaman kangkung dapat
dilakukan dengan ukuran lebar 0,8-1,2 m, panjang3-5 m, dalam ± 15-20 cm
dan jarak antar bedeng 50 cm dengan membuat selokan.Ukuran tersebut
dapat disesuaikan, tergantung keadaan lahan yang tersedia.Bedengan
dibuat untuk kelancaran pemasukan dan pembuangan air yang berlebihserta
untuk memudahkan pemeliharaan dan kegiatan lain. Ada pula yang
membuat bedengan dengan ukuran panjang kali lebar: 2×1 m dengan kedalaman
drainase 30×30 cm.
3.2.4. Pemupukan
Pemupukan
bagi tanaman kangkung terdiri dari pupuk dasar yaitu pupuk kandang, yang
diberikan seminggu sebelum tanam (setelah selesai pembuatan bedengan).
Selain itu juga diberikan pupuk urea, seminggu setelah tanam, kemudian 2
minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea dicampur dengan air kemudian
disiram pada pangkal tanaman denganember penyiram. Pada waktu melakukan
pemupukan, lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4 sampai 5 hari.
Kemudian diairi kembali. Pupuk yang diperlukan adalah sebagai berikut:
10-20 ton/ha rabuk organik dan 100-250 kg/ha urea,diberikan selama 2
minggu pertama, dengan cara disiramkan.
3.2.5. Lain-lain
Agar
tanaman kangkung dapat berproduksi secara memuaskan, perlu dilakukan
pergiliran tanaman dengan tanaman kacang tanah, kacang hijau, kacang
buncis, kecipir atau ketimun.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan PolaTanam
Penentuan
pola tanam dapat disesuaikan dengan luas lahan yang akan ditanami.
Apabila bedengan dibuat dengan ukuran 2×1 m, maka bila jarak tanamnya
ditentukan 20×20 cm, maka dalam satu bedengan terdapat sebanyak 50 lubang
atau 50 rumpun kangkung.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan
lubang tanamdapat dilakukan dengan cara ditugal, yang berjarak 20×20
cm, sedalam ± 5 cm. Setiap bedengan dapat ditentukan jumlah lubangnya
(tergantung ukuran bedengan).
3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman
kangkung darat dilakukan pada sore hari yaitu jam 16.00 sampai 18.00.
Hal ini bertujuan agar benih setelah ditanam tidak langsung mendapat
udara kering sehingga benihcepat berkecambah.
3.4. PemeliharaanTanaman
3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Bila
tanaman kangkung terlalu lebat/sangat berdesakan dalam satu rumpun maka
diperlukan penjarangan.Apabila tanaman banyak yang mati, maka segera
dilakukan penyulaman (digantidengan bibit yang baru yang telah
disiapkan).
3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukanbila terdapat rumput liar (tanaman pengganggu). Penyiangan dilakukan setiap 2minggu.
3.4.3. Pembubunan
Pembumbunan
dilakukanuntuk mendekatkan unsur hara bagi tanaman kangkung sehingga
dapat mempermudahakar tanaman untuk mentransfernya. Pembumbunan
dilakukan pada saat tanamanberumur 2 minggu.
3.4.4. Perempalan
Bagi
tanaman kangkungsebagai penghasil daun dan batang, perempalan tidak
dibutuhkan, sebabperempalan adalah penyortiran dan pengambilan
tunas-tunas muda yang tidakberguna, yang akan menghambat pertumbuhan
tanaman.
3.4.5. Pemupukan
Pemupukan
dilakukandengan menggunakan pupuk urea. Pupuk urea diberikan hanya
sekali dengan caradilarutkan dalam air lalu disiram pada tanaman
kangkung. Perlu diperhatikanagar pada waktu menebar pupuk jangan sampai
ada butir pupuk yang tersangkutatau menempel pada daun, sebab akan
menyebabkan daun menjadi layu. Gunakan sapulidi setiap selesai menabur
pupuk.
3.4.6. Pengairan danPenyiraman
Selama
tidak adahujan, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman gunanya untuk
mencegah tanamankangkung terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan dua
kali sehari yaitu pagi(jam 07.00) dan sore (jam 17.00). Penyiraman
dilakukan dengan gembor penyiram.Tanaman kangkung membutuhkan banyak air
dalam pertumbuhannya.
3.4.7. WaktuPenyemprotan Pestisida
Tanaman
kangkung daratyang terkena ulat berwarna putih yang berada pada helai
daun sebelah bawahsehingga menyebabkan warna daun menjadi kuning. Untuk
penanggulangannyadisemprotkan Baysudin dengan dosis 2 cc per liter air,
yang disemprotkan sorehari. Untuk memberantas ulat daun yang sering
menyerang tanaman kangkung,digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan
dosis sebesar 2 cc per liter airdan disemprotkan pada tanaman. Serangga
pemakan daun dikendalikan denganpenyemprotan strategis senyawa
organofosfat jauh sebelum pemanenan.
3.4.8. PemeliharaanLain
Agar pertumbuhansubur, sebaiknya seminggu setelah atau sebelum panen, tanaman dipupuk ureakembali.
3.5. Panen
3.5.1. Ciri dan Umur
Panen
Panen pertamasudah bisa dilakukan pada hari ke 12. Saat ini kangkung
sudah tumbuh denganpanjang batang kira-kira 20-25 cm. Ada pula yang
mulai memangkas sesudahberumur 1,5 bulan dari saat penanaman.
3.5.2. Cara Panen
Cara
pemanenankangkung air hampir sama dengan kangkung darat. Cara memanen,
pangkas batangnyadengan menyisakan sekitar 2-5 cm di atas permukaan
tanah atau meninggalkan 2-3buku tua. Panen dilakukan pada sore hari.
Panenan dilakukan dengan caramemotong kangkung yang siap panen dengan
ciri batang besar dan berdaun lebar.Dengan menggunakan alat pemotong.
Pemungutan hasil kangkung darat dapat puladilakukan dengan cara
mencabutnya sampai akar, kemudian dicuci dalam air. Panenkangkung darat
dilakukan pada umur 27 hari. Selama panen, lahan penanaman harustetap
basah tapi tidak berair (lembab).
3.5.3. Periode Panen
Panen
dilakukan 2-3minggu sekali. Setiap kali habis panen, biasanya akan
terbentuk cabang-cabangbaru. Setelah 5 kali panen atau 10-11 kali panen
maka produksi kangkung akan menurunbaik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Jika sudah terlihat berbunga,sisakan ± 2 m2 untuk
dikembangkan terus menjadi biji yang kira-kira memakanwaktu 40 hari
sampai dapat dikeringkan. 3.6.4. Prakiraan Produksi Pertanamankangkung
secara komersial menghasilkan sekitar 15 ton/ha sepanjang
beberapapanenan berturut-turut atau sekitar 160 kg/tahun/10 m2.
3.6. Pascapanen
3.6.1. Pengumpulan
Kangkung yang barudipanen dikumpulkan dan kemudian disatukan sebanyak 15-20 batang kangkung dalamsatu ikatan.
3.6.2 Penyimpanan
Dalam
penyimpanan(sebelum dipasarkan), agar tidak cepat layu, kangkung yang
telah diikatcelupkan dalam air tawar bersih dan tiriskan dengan
menggunakan anjang-anjang.
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/13/1560/
Senin, 22 April 2013
HAMA & PENYAKIT PADI DI MUSIM HUJAN
Tanaman padi merupakan tanaman
pokok untuk keperluan hidup, namun ia harus menghadapi berbagai tantangan dan
kendala.baik berupa fisik, sosial/ekonomi dan biologis yang mengancam
keberhasilan produksinya1. Salah satu yang menyebabkan petani gagal panen
adalah kendala biologis yag sangat penting ialah adanya berbagai spesies
organisme, yang biasanya disebut organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang
menyerang tanaman budidaya tersebut sehingga dapat mengakibatkan penurunan
kualitas dan kuantitas produksi , atau bahkan meengalami gagal panen2. Dalam
mengatisipasi terjadinya ledakan OPT maka perlu dilakukan pengamatam rutin,
peramalan dan cara-cara pengendalian yang sesuai dengan konsep PHT 3.
Namun, sering kali para petani mengalami gagal
panen hal ini disebabkan karena adanya penyakit dan hama yang menyerang tanaman
padi. Oleh karena itu, kami mengangkat masalah ini agar dapat mengetahui
dampak-dampak dan faktor-faktor petani gagal panen.Jenis-jenis penyakit di
antara lainnya adalah:
1.
Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit kresek yang
pada umumnya dikenal oleh masyarakat. Penyakit telah berkembang pada musim
hujan maupun musim kemarau yang basah.
2.
Tungro merupakan pertumbuhan tanaman yang terhambat,
kerdil dan jumlah anakan berkurang.
3.
Blas merupakan penyakit busuk leher (Blas leher malai).
4.
Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama yang sangat
penting pada padi dan sering menimbulkan kerusakan yang menurunkan hasil secara
nyat.
5.
Wereng Batang Coklat (WBC) muncul menjadi hama penting
di Indonesia akibat penggunaan Insektisida secara berlebihan.
Dikenal juga dengan sebutan Kresek :
Nama Lain :
Hawar Daun Bakteri ( HDB) / Bacterial Leaf Blight ( BLB)
Penyebab :
Bakteri Xanthomonas orizae
Fase serangan :
Vegetatif dan Generatif
Penyebaran :
Melalui Benih ,air, gesekan antar tanam
Bagian Tanaman yang diserang terutama pada titik
tumbuh dan daun bendera . Kerusakan terberat terjadi apabila penyakit menyerang
tanaman muda yang peka sehingga menimbulkan gejala kresek, dapat menyebabkan
tanaman mati. Penyakit dapat terjadi pada semua stadia tanaman . Namun yang
paling umum ialah terjadi pada saat tanaman mulai mencapai anakan maksimum
sampai fase berbunga. Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedang
pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight).
Gejala diawali dengan bercak kelabu (water soaked) umumnya di bagian
pinggir daun. Pada varietas yang rentan bercak berkembang terus, dan akhirnya
membentuk hawar. Pada keadaan yang parah, pertanaman terlihat kering seperti
terbakar.
Pengendalian :
Menggunakanbahan yang efektif dan tepat waktu saat masa penetrasi penyakit ke
dalam tanaman. Dianjurkan pengendalian pada saat treatment (perlakuan benih),
tanaman umur 14, 28, 42 hari setelah tanam ( HST).
Tungro
Penyebab :
Virus Tungro
Vektor :
Wereng Hijau
Fase serangan :
Vegetatif dan Generatif
Penyebaran : Melalui
vector yang sudah terinveksi virus
Serangan
penyakit ini mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan berkurangnya jumlah
anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna
kuning sampai oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat
sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai
dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih
tua terinfeksi.
Bila
serangan terjadi pada saat tanaman masih muda, sekitar umur 10-20 hari, akan
menyebabkan kehilangan hasil sedikitnya 65%. Sedangkan untuk serangan saat
tanaman berada pada fase akhir, kehilangan hasil tidak terlalu besar, yaitu sekitar
10-20%.
Pengendaliannya
dengan cara memberantas berbagai jenis rumput liar yang merupakan sumber
infeksi bagi penyakit ini, rotasi tanaman dengan palawija, menanam varietas
yang tahan tungro, pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi, cabut dan
bakar tanaman yang sakit, dan tanam dengan menggunakan sistem tabela atau SRI.
Blas
Nama Lain :
Leaf Blast ( blas daun), Neck Blast (Blas leher), patah / potong leher
Penyebab :
Jamur Pyrycularia oryzae
Fase serangan :
Vegetatif dan Generatif
Penyebaran :
Melalui Benih dan angin
Penyebab
penyakit dapat menginfeksi tanaman pada semua stadium tumbuh dan
menyebabkan tanaman puso. Pada tanaman stadium vegetatif biasanya menginfeksi
bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Pada stadium generatif selain
menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai disebut blas leher (neck
blast).
Gejala penyakit
blas dapat timbul pada daun, batang, malai, dan gabah, tetapi yang umum adalah
pada daun dan pada leher malai. Gejala pada daun berupa bercak-bercak berbentuk
seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau
keputih-putihan dan biasanya memmpunyai tepi coklat atau coklat kemerahan.
Gejala penyakit blas yang khas adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut
busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan
menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil
yang bulat.
Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Kelebihan nitrogen dan kekurangan air menambah kerentanan tanaman. Diduga bahwa
kedua faktor tersebut menyebabkan kadar silikon tanaman rendah. Kandungan
silikon dalam jaringan tanaman menentukan ketebalan dan kekerasan dinding sel
sehingga mempengaruhi terjadinya penetrasi patogen kedalam jaringan tanaman.
Tanaman padi yang berkadar silikon rendah akan lebih rentan terhadap infeksi
patogen. Pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit blas.
Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi.
Pengendalian : Menggunakan bahan yang efektif dan tepat waktu saat masa
penetrasi ke dalam tanaman , dianjurkan pengendalian pada saat tanaman umur 15
, 30, 45 dan 65 hari.
Penggerek Batang Padi (PBP)
Nama Lain :
Beluk / Sundep
Penyebab :
penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), Penggerk
batang padi bergaris (Chilo supressalis), penggerek batang padi merah
jambu (Sesamia inferens).
Fase serangan :
Vegetatif dan Generatif
Terdapat empat spesies penggerek batang padi, yaitu penggerek batang padi
kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek batang padi putih (Scirpophaga
innotata), Penggerk batang padi bergaris (Chilo supressalis) dan
penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens). Tiga jenis
pertama tergolong dalam family Pyralidae dan yang terakhir Family Noctuidae yang
semuanya termasuk ordo Lepidoptera. Ke empat jenis penggerk batang
ini mempunyai cara hidup hampir sama dan gejala kerusakan yang ditimbulkan juga
persis sama.
Keempat jenis penggerek batang padi
menimbulkan gejala kerusakan yang sama karena cara hidupnya sama. Liang gerek
yang dibuat larva dapat memutuskan perjalanan air dan unsur hara dari akar
sehingga melemahkan tanaman padi. Kerusakan yang timbul tergantung pada fase
pertumbuhan tanaman.
Serangan pada fase Vegetatif
maka daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuhnya di makan.
Pucukyang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut. Gejala ini disebut SUNDEP.
Kalau serangan terjadi pada
fase Generatip, maka malai akan mati karena pangkalnya dikerat oleh
larva. Malai yang mati akan tetap tegak, berwarna abu-abu putih dan bulirnya
hampa. Malai ini mudah dicabut dan pada pangkalnya terdapat bekas gigitan
larva. Gejala serangan pada tahap ini disebut BELUK
Pengendalian
Kultur Teknis
- Menanan varietas yang cepat dewasa. pada varietas ini perkembangbiakan penggerk batang tidak akan lebih dari satu generasi, sehingga populasi tidak terlalu tinggi dan kerusakan akan berkurang
- Menanan serempak, selisih waktu tanam jangan melewati 3-4 minggu.
- Membuang tunggul jerami segera setelah panen dengan cara membenamkannya pada waktu pengolahan tanah, atau memotong tungul padi persis dipermukaan tanah, cara ini dapat membunuh larva dan pupa penggerek batang yang bertahan di tunggul tersebut.
- Menghindari kelebihan penggunaan pupuk N dan membagi waktu pemberiannya.
- Membuang bibit padi yang mengandung telur penggerk batang sebelum penanaman
Pengendalian
Hayati
Terdapat beberapa musuh
alami yanga dapat menekan populasi penggerk batang. Tabuhan Family Trichogrrammatidae,
Scelionidae dan Eulophidae yang dapat bertindak sebagai parasitoid
Wereng Batang Coklat (WBC)
Nama Lain : Wereng
coklat
Penyebab :
Nilaparvata lugens Stal.
Fase serangan :
Vegetatif dan Generatif
Wereng coklat (Nilaparvata lugens) sampai saat ini
masih dianggap sebagai hama utama pada pertanaman padi karena
kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim
pertanaman.
Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat
dosis dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat.
Hal ini juga merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi
(varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP >200 dan
sebagainya). Tergantung pada tingkat kerusakan, serangan wereng coklat
dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kuintal gabah sampai
puso.
Teknologi
pengendalian hama menggunakan ambang ekonomi
berdasar
musuh alami
Pengendalian
wereng coklat menggunakan ambang kendali berdasar musuh alami dapat digunakan
pada semua daerah serangan hama. Pekerjaan yang mesti dilakukan sebagai
berikut:
- Pengamatan wereng coklat dilakukan seminggu sekali atau paling lambat 2 minggu sekali
- Amati pada 20 rumpun arah diagonal, pada hamparan 5 ha dengan .(varietas sama dan umur yang sama diambil 2 contoh masing-masing 20 rumpun.
- Hitung jumlah wereng (wereng coklat + wereng punggung putih) dan musuh alami (laba-laba Ophione nigrofasciata, Paederus fuscifes, Coccinella, dan kepik Cyrtorhinus lividipennis.
- Gunakan formula Baehaki dibawah ini
Di = Ai - (5Bi+Ci) ekor/rumpun
20
Ai:
Populasi wereng (wereng coklat + wereng punggung putih} pada 20 rumpun pada
minggu ke-i.
Bi:
Populasi predator Laba-laba + Ophionea nigrfasciata + Paederus
fuscifes Coccinella pada 20 rumpun pada minggu ke-i
Ci:
Populasi Cyrtorhinus lividipennis pada 20 rumpun
Di:
Wereng coklat terkoreksi per rumpun
Aplikasi insektisida
Jika
dan hanya jika nilai Di > 5 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun
pada padi berumur <40 hst atau nilai Di >20 ekor wereng
coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst perlu diaplikasi dengan
insektisida yang direkomendasikan.
Jika
dan hanya jika nilai Di < 5 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun
pada padi berumur <40 hst atau nilai Di <20 ekor wereng coklat
terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst tidak perlu diaplikasi dengan
insektisida, tetapi teruskan amati pada minggu berikutnya.
Pada
ambang kendali berdasarkan musuh alami terabaikan perhitungannya sama dengan di
atas. Perbedaannya yaitu jika nilai Di > 5 ekor wereng
coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur <40 hst atau nilai Di
>20 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst tidak
perlu diaplikasi dengan insektisida dan dibiarkan sampai pengamatan minggu
berikutnya. Apabila hasil analisis minggu berikutnya menunjukkan nilai Di
lebih besar dari nilai Di minggu yang lalu, maka perlu dikemdalikan
dengan insektisida tersebut di atas. Apabila hasil analisis minggu
berikutnya menunjukkan nilai Di lebih kecil atau sama dengan
nilai Di minggu yang lalu, maka tidak perlu diaplikasi dan amati
lagi pada minggu selanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)




