Minggu, 26 Mei 2013

BUDIDAYA KANGKUNG

I. PENDAHULUAN.
Kangkung tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Kangkung disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Berasal dari India yangkemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan, Australia dan bagian negara Afrika. Sentra Penanaman Kangkung banyak ditanam di Pulau Jawa khususnya di Jawa Barat, juga di Papua, Aceh Besar dsb. Tanaman kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual kepasar.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan disekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput,kebun/ladang yang agak rimbun.
Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Ditempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dankemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen. Suhu udara dipengaruhioleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.

2.2. Media Tanam
Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah. Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air. Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik.

2.3.Ketinggian Tempat
Kangkung dapat tumbuhdan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun didataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal jangan dicampur aduk.

III. PEDOMAN TEKNISBUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Bibit Kangkung Darat
Dalam pemilihan bibit harus disesuaikan dengan lahan (air atau darat). Karena kalau kangkung darat ditanam di lahan untuk kangkung air produksinya kurang baik, warna daun menguning, bentuk kecil dan cepat membusuk. Bibit kangkung sebaiknya berasaldari kangkung muda, berukuran 20 -30 cm. Pemilihan bibit harus memperhatikan hal-hal seperti berikut, batang besar, tua, daun besar dan bagus. Penanamannya dengan cara stek batang, kemudian ditancapkan di tanah. Sedangkan biji untuk bibit harus diambil dari tanaman tua dan dipilih yang kering serta berkualitas baik.

3.1.2. Penyiapan Benih
Benih kangkung yang akan ditanam adalah stek muda, berukuran 20-30 cm, dengan jarak tanam 1,5 x 15cm.
Untuk benih dari biji kangkung diambil dari tanaman yang tua.
Benih yang diperlukan untuk seluas 10 m2 atau 2 bedengan ± 300 gram, jika tiap lubang diisi 2-3 butirbiji.

3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Biji dengan ukuran diameter 3 mm, disebar dalam baris-baris berjarak 15 cm dengan jarak kira-kira5 cm antara masing-masing biji. Kultivar yang berbiji dapat tahan tanah lembab dan tumbuh baik dalam musim hujan.

3.1.4. Pemeliharaan Pembenihan/Penyemaian
Agar diperoleh hasil panen yang baik, dalam pemeliharaan pembenihan kangkung diperlukan penyiraman teratur dan kerap pada cuaca kering.

3.2. Pengolahan MediaTanam
3.2.1. Persiapan
Kangkung air membutuhkan tempat-tempat yang ada genangan air. Bertanam kangkung memerlukan tanah yang diberi pupuk kompos, kemudian dibuatkan petak-petak/bedengan seperti tanaman sayuran lain. Tentang panjang bedengan, tergantung kondisi lahan. Kemudian siapkan tugal dan tancapkan di atas bedengan dengan jarak 20 x 20 cm.

3.2.2. Pembukaan Lahan
Tiga minggu sebelum melakukan penanaman kangkung, sebaiknya tanah diolah terlebih dahulu. Kemudian tanah dicampur dengan pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 10 ton perhektar, diberi air dengan ketinggian 5 cm, dibiarkan tergenang air dan diberiurea 1 kuintal per hektar 3.2.3. Pembentukan Bedengan Pembentukan bedenganuntuk tanaman kangkung dapat dilakukan dengan ukuran lebar 0,8-1,2 m, panjang3-5 m, dalam ± 15-20 cm dan jarak antar bedeng 50 cm dengan membuat selokan.Ukuran tersebut dapat disesuaikan, tergantung keadaan lahan yang tersedia.Bedengan dibuat untuk kelancaran pemasukan dan pembuangan air yang berlebihserta untuk memudahkan pemeliharaan dan kegiatan lain. Ada pula yang membuat bedengan dengan ukuran panjang kali lebar: 2×1 m dengan kedalaman drainase 30×30 cm.

3.2.4. Pemupukan
Pemupukan bagi tanaman kangkung terdiri dari pupuk dasar yaitu pupuk kandang, yang diberikan seminggu sebelum tanam (setelah selesai pembuatan bedengan). Selain itu juga diberikan pupuk urea, seminggu setelah tanam, kemudian 2 minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea dicampur dengan air kemudian disiram pada pangkal tanaman denganember penyiram. Pada waktu melakukan pemupukan, lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4 sampai 5 hari. Kemudian diairi kembali. Pupuk yang diperlukan adalah sebagai berikut: 10-20 ton/ha rabuk organik dan 100-250 kg/ha urea,diberikan selama 2 minggu pertama, dengan cara disiramkan.

3.2.5. Lain-lain
Agar tanaman kangkung dapat berproduksi secara memuaskan, perlu dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang tanah, kacang hijau, kacang buncis, kecipir atau ketimun.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan PolaTanam
Penentuan pola tanam dapat disesuaikan dengan luas lahan yang akan ditanami. Apabila bedengan dibuat dengan ukuran 2×1 m, maka bila jarak tanamnya ditentukan 20×20 cm, maka dalam satu bedengan terdapat sebanyak 50 lubang atau 50 rumpun kangkung.

3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanamdapat dilakukan dengan cara ditugal, yang berjarak 20×20 cm, sedalam ± 5 cm. Setiap bedengan dapat ditentukan jumlah lubangnya (tergantung ukuran bedengan).

3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman kangkung darat dilakukan pada sore hari yaitu jam 16.00 sampai 18.00. Hal ini bertujuan agar benih setelah ditanam tidak langsung mendapat udara kering sehingga benihcepat berkecambah.

3.4. PemeliharaanTanaman
3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Bila tanaman kangkung terlalu lebat/sangat berdesakan dalam satu rumpun maka diperlukan penjarangan.Apabila tanaman banyak yang mati, maka segera dilakukan penyulaman (digantidengan bibit yang baru yang telah disiapkan).

3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukanbila terdapat rumput liar (tanaman pengganggu). Penyiangan dilakukan setiap 2minggu.

3.4.3. Pembubunan
Pembumbunan dilakukanuntuk mendekatkan unsur hara bagi tanaman kangkung sehingga dapat mempermudahakar tanaman untuk mentransfernya. Pembumbunan dilakukan pada saat tanamanberumur 2 minggu.

3.4.4. Perempalan
Bagi tanaman kangkungsebagai penghasil daun dan batang, perempalan tidak dibutuhkan, sebabperempalan adalah penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidakberguna, yang akan menghambat pertumbuhan tanaman.

3.4.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukandengan menggunakan pupuk urea. Pupuk urea diberikan hanya sekali dengan caradilarutkan dalam air lalu disiram pada tanaman kangkung. Perlu diperhatikanagar pada waktu menebar pupuk jangan sampai ada butir pupuk yang tersangkutatau menempel pada daun, sebab akan menyebabkan daun menjadi layu. Gunakan sapulidi setiap selesai menabur pupuk.

3.4.6. Pengairan danPenyiraman
Selama tidak adahujan, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman gunanya untuk mencegah tanamankangkung terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi(jam 07.00) dan sore (jam 17.00). Penyiraman dilakukan dengan gembor penyiram.Tanaman kangkung membutuhkan banyak air dalam pertumbuhannya.

3.4.7. WaktuPenyemprotan Pestisida
Tanaman kangkung daratyang terkena ulat berwarna putih yang berada pada helai daun sebelah bawahsehingga menyebabkan warna daun menjadi kuning. Untuk penanggulangannyadisemprotkan Baysudin dengan dosis 2 cc per liter air, yang disemprotkan sorehari. Untuk memberantas ulat daun yang sering menyerang tanaman kangkung,digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter airdan disemprotkan pada tanaman. Serangga pemakan daun dikendalikan denganpenyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.

3.4.8. PemeliharaanLain
Agar pertumbuhansubur, sebaiknya seminggu setelah atau sebelum panen, tanaman dipupuk ureakembali.

3.5. Panen
3.5.1. Ciri dan Umur
Panen Panen pertamasudah bisa dilakukan pada hari ke 12. Saat ini kangkung sudah tumbuh denganpanjang batang kira-kira 20-25 cm. Ada pula yang mulai memangkas sesudahberumur 1,5 bulan dari saat penanaman.

3.5.2. Cara Panen
Cara pemanenankangkung air hampir sama dengan kangkung darat. Cara memanen, pangkas batangnyadengan menyisakan sekitar 2-5 cm di atas permukaan tanah atau meninggalkan 2-3buku tua. Panen dilakukan pada sore hari. Panenan dilakukan dengan caramemotong kangkung yang siap panen dengan ciri batang besar dan berdaun lebar.Dengan menggunakan alat pemotong. Pemungutan hasil kangkung darat dapat puladilakukan dengan cara mencabutnya sampai akar, kemudian dicuci dalam air. Panenkangkung darat dilakukan pada umur 27 hari. Selama panen, lahan penanaman harustetap basah tapi tidak berair (lembab).

3.5.3. Periode Panen
Panen dilakukan 2-3minggu sekali. Setiap kali habis panen, biasanya akan terbentuk cabang-cabangbaru. Setelah 5 kali panen atau 10-11 kali panen maka produksi kangkung akan menurunbaik secara kuantitatif maupun kualitatif. Jika sudah terlihat berbunga,sisakan ± 2 m2 untuk dikembangkan terus menjadi biji yang kira-kira memakanwaktu 40 hari sampai dapat dikeringkan. 3.6.4. Prakiraan Produksi Pertanamankangkung secara komersial menghasilkan sekitar 15 ton/ha sepanjang beberapapanenan berturut-turut atau sekitar 160 kg/tahun/10 m2.

3.6. Pascapanen
3.6.1. Pengumpulan
Kangkung yang barudipanen dikumpulkan dan kemudian disatukan sebanyak 15-20 batang kangkung dalamsatu ikatan.

3.6.2 Penyimpanan
Dalam penyimpanan(sebelum dipasarkan), agar tidak cepat layu, kangkung yang telah diikatcelupkan dalam air tawar bersih dan tiriskan dengan menggunakan anjang-anjang.

Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/13/1560/

Senin, 22 April 2013

HAMA & PENYAKIT PADI DI MUSIM HUJAN

Tanaman padi merupakan tanaman pokok untuk keperluan hidup, namun ia harus menghadapi berbagai tantangan dan kendala.baik berupa fisik, sosial/ekonomi dan biologis yang mengancam keberhasilan produksinya1. Salah satu yang menyebabkan petani gagal panen adalah kendala biologis yag sangat penting ialah adanya berbagai spesies organisme, yang biasanya disebut organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menyerang tanaman budidaya tersebut sehingga dapat mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi , atau bahkan meengalami gagal panen2. Dalam mengatisipasi terjadinya ledakan OPT maka perlu dilakukan pengamatam rutin, peramalan dan cara-cara pengendalian yang sesuai dengan konsep PHT 3.
Namun, sering kali para petani mengalami gagal panen hal ini disebabkan karena adanya penyakit dan hama yang menyerang tanaman padi. Oleh karena itu, kami mengangkat masalah ini agar dapat mengetahui dampak-dampak dan faktor-faktor petani gagal panen.Jenis-jenis penyakit di antara lainnya adalah:
1.      Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit kresek yang pada umumnya dikenal oleh masyarakat. Penyakit telah berkembang pada musim hujan maupun musim kemarau yang basah.
2.      Tungro merupakan pertumbuhan tanaman yang terhambat, kerdil dan jumlah anakan berkurang.
3.      Blas merupakan penyakit busuk leher (Blas leher malai).
4.      Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama yang sangat penting pada padi dan sering menimbulkan kerusakan yang menurunkan hasil secara nyat.
5.      Wereng Batang Coklat (WBC) muncul menjadi hama penting di Indonesia akibat penggunaan Insektisida secara berlebihan.
      Hawar Daun Bakteri (HDB)
Dikenal juga dengan sebutan Kresek :
Nama Lain       :  Hawar Daun Bakteri ( HDB) / Bacterial Leaf Blight ( BLB)
Penyebab         :  Bakteri Xanthomonas orizae
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
Penyebaran      :   Melalui Benih ,air, gesekan antar tanam
Bagian Tanaman yang diserang terutama pada titik tumbuh dan daun bendera . Kerusakan terberat terjadi apabila penyakit menyerang tanaman muda yang peka sehingga menimbulkan gejala kresek, dapat menyebabkan tanaman mati. Penyakit dapat terjadi pada semua stadia tanaman . Namun yang paling umum ialah terjadi pada saat tanaman mulai mencapai anakan maksimum sampai fase berbunga. Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedang pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight). Gejala diawali dengan bercak kelabu (water soaked) umumnya di bagian pinggir daun. Pada varietas yang rentan bercak berkembang terus, dan akhirnya membentuk hawar. Pada keadaan yang parah, pertanaman terlihat kering seperti terbakar.
Pengendalian    : Menggunakanbahan yang efektif dan tepat waktu saat masa penetrasi penyakit ke dalam tanaman. Dianjurkan pengendalian pada saat treatment (perlakuan benih), tanaman umur 14, 28, 42 hari setelah tanam ( HST).
 

Tungro
Penyebab         :   Virus Tungro
Vektor             :   Wereng Hijau
Fase serangan   :   Vegetatif dan Generatif
Penyebaran      :   Melalui vector yang sudah terinveksi virus
 
Serangan penyakit ini mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi.
Bila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda, sekitar umur 10-20 hari, akan menyebabkan kehilangan hasil sedikitnya 65%. Sedangkan untuk serangan saat tanaman berada pada fase akhir, kehilangan hasil tidak terlalu besar, yaitu sekitar 10-20%.
Pengendaliannya dengan cara memberantas berbagai jenis rumput liar yang merupakan sumber infeksi bagi penyakit ini, rotasi tanaman dengan palawija, menanam varietas yang tahan tungro, pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi, cabut dan bakar tanaman yang sakit, dan tanam dengan menggunakan sistem tabela atau SRI.
 
Blas
Nama Lain       :  Leaf Blast ( blas daun), Neck Blast (Blas leher), patah / potong leher
Penyebab         :  Jamur Pyrycularia oryzae
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
Penyebaran      :   Melalui Benih dan angin
 
Penyebab penyakit dapat menginfeksi tanaman pada  semua stadium tumbuh dan menyebabkan tanaman puso. Pada tanaman stadium vegetatif biasanya menginfeksi bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Pada stadium generatif selain menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai disebut blas leher (neck blast).
Gejala penyakit blas dapat timbul pada daun, batang, malai, dan gabah, tetapi yang umum adalah pada daun dan pada leher malai. Gejala pada daun berupa bercak-bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya memmpunyai tepi coklat atau coklat kemerahan. Gejala penyakit blas yang khas adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat.
Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kelebihan nitrogen dan kekurangan air menambah kerentanan tanaman. Diduga bahwa kedua faktor tersebut menyebabkan kadar silikon tanaman rendah. Kandungan silikon dalam jaringan tanaman menentukan ketebalan dan kekerasan dinding sel sehingga mempengaruhi terjadinya penetrasi patogen kedalam jaringan tanaman. Tanaman padi yang berkadar silikon rendah akan lebih rentan terhadap infeksi patogen. Pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit blas. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi.
Pengendalian : Menggunakan bahan yang efektif dan tepat waktu saat masa penetrasi ke dalam tanaman , dianjurkan pengendalian pada saat tanaman umur 15 , 30, 45 dan 65 hari.
 
Penggerek Batang Padi (PBP)
Nama Lain       :  Beluk / Sundep
Penyebab         :  penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), Penggerk batang padi bergaris (Chilo supressalis), penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens). 
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
Terdapat empat spesies penggerek batang padi, yaitu penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata), Penggerk batang padi bergaris (Chilo supressalis) dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens).  Tiga jenis pertama tergolong dalam family Pyralidae dan yang terakhir Family Noctuidae yang semuanya termasuk ordo Lepidoptera. Ke empat jenis penggerk batang ini mempunyai cara hidup hampir sama dan gejala kerusakan yang ditimbulkan juga persis sama.
Keempat jenis penggerek batang padi menimbulkan gejala kerusakan yang sama karena cara hidupnya sama. Liang gerek yang dibuat larva dapat memutuskan perjalanan air dan unsur hara dari akar sehingga melemahkan tanaman padi. Kerusakan yang timbul tergantung pada fase pertumbuhan tanaman.
Serangan pada fase Vegetatif maka daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuhnya di makan. Pucukyang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut. Gejala ini disebut SUNDEP.
Kalau serangan terjadi pada fase Generatip, maka malai akan mati karena pangkalnya dikerat oleh larva. Malai yang mati akan tetap tegak, berwarna abu-abu putih dan bulirnya hampa. Malai ini mudah dicabut dan pada pangkalnya terdapat bekas gigitan larva. Gejala serangan pada tahap ini disebut BELUK
Pengendalian
Kultur Teknis

  • Menanan varietas yang cepat dewasa. pada varietas ini perkembangbiakan penggerk batang tidak akan lebih dari satu generasi, sehingga populasi tidak terlalu tinggi dan kerusakan akan berkurang
  • Menanan serempak, selisih waktu tanam jangan melewati 3-4 minggu.
  • Membuang tunggul jerami segera setelah panen dengan cara membenamkannya pada waktu pengolahan tanah, atau memotong tungul padi persis dipermukaan tanah, cara ini dapat membunuh larva dan pupa penggerek batang yang bertahan di tunggul tersebut.
  • Menghindari kelebihan penggunaan pupuk N dan membagi waktu pemberiannya.
  • Membuang bibit padi yang mengandung telur penggerk batang sebelum penanaman
Pengendalian Hayati
       Terdapat beberapa musuh alami yanga dapat menekan populasi penggerk batang. Tabuhan Family Trichogrrammatidae, Scelionidae dan Eulophidae yang dapat bertindak sebagai parasitoid
 
Wereng Batang Coklat (WBC)
Nama Lain       :  Wereng coklat
Penyebab         :  Nilaparvata lugens Stal.
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
 
Wereng coklat (Nilaparvata lugens) sampai saat ini masih dianggap sebagai hama utama pada pertanaman padi karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim pertanaman.
Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat. Hal ini juga merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP >200 dan sebagainya). Tergantung pada tingkat kerusakan, serangan wereng coklat dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kuintal gabah sampai puso.
Teknologi pengendalian hama menggunakan ambang ekonomi
berdasar musuh alami
Pengendalian wereng coklat menggunakan ambang kendali berda­sar musuh alami dapat digunakan pada semua daerah serangan hama.  Pekerjaan yang mesti dilakukan sebagai berikut:

  1. Pengamatan wereng coklat dilakukan  seminggu sekali atau paling lambat 2 minggu sekali
  2. Amati pada 20 rumpun arah diagonal, pada hamparan 5 ha dengan .(varietas sama dan umur yang sama diambil 2 contoh masing-masing 20 rumpun.
  3. Hitung jumlah wereng (wereng coklat +  wereng punggung putih) dan musuh alami (laba-laba Ophione nigrofasciata, Paederus fuscifes, Coccinella, dan kepik Cyrtorhinus lividipennis.
  4. Gunakan formula Baehaki  dibawah ini
Di = Ai - (5Bi+Ci)  ekor/rumpun
              20
Ai: Populasi wereng (wereng coklat + wereng punggung putih} pada 20 rumpun pada minggu ke-i.
Bi:  Populasi predator Laba-laba + Ophionea nigrfasciata + Paederus fuscifes Coccinella pada 20 rumpun pada minggu ke-i
Ci: Populasi Cyrtorhinus lividipennis pada 20 rumpun
Di: Wereng coklat terkoreksi per rumpun
Aplikasi insektisida
Jika dan hanya jika nilai Di > 5 ekor wereng coklat terkorek­si/rumpun pada padi berumur <40 hst atau nilai  Di >20 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst perlu diapli­kasi dengan insektisida  yang direkomendasikan.
Jika dan hanya jika nilai Di < 5 ekor wereng coklat terkorek­si/rumpun pada padi berumur <40 hst atau nilai Di <20 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst tidak perlu diaplikasi dengan insektisida, tetapi teruskan amati pada minggu berikutnya.
Pada ambang kendali berdasarkan musuh alami terabaikan perhitungannya sama dengan di atas.  Perbedaannya yaitu jika nilai Di > 5 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi beru­mur <40 hst atau nilai Di >20 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst tidak perlu diaplikasi dengan insekti­sida dan dibiarkan sampai pengamatan minggu berikutnya.  Apabila hasil analisis minggu berikutnya menunjukkan nilai Di lebih besar dari nilai Di minggu yang lalu, maka perlu dikemdalikan dengan insektisida tersebut di atas.  Apabila hasil analisis minggu berikutnya menunjukkan nilai  Di lebih kecil atau sama dengan nilai Di minggu yang lalu, maka tidak perlu diaplikasi dan amati lagi pada minggu selanjutnya.

Selasa, 26 Maret 2013

CARA MEMBUAT MOL (MIKRO ORGANISME LOKAL)

Untuk petani organik, kompos merupakan pupuk yang sering diaplikasikan ke lahan.  Untuk membantu proses dekomposisi bahan - bahan organik menjadi kompos, diperlukan bahan-bahan decomposer. Berbagai macam bahan-bahan decomposer banyak beredar di pasar (seperti EM4, Petrofast, dll). Petani yang ingin mandiri tidak ingin selalu bergantung dengan pihak lain, terutama pihak - pihak penyedia sarana produksi pertanian. Petani bisa membuat sendiri decomposer dari bahan - bahan yang ada di sekitar kita berupa MOL.
MOL di sini adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal. MOL merupakan organisme yang sangat bermanfaat terutama untuk lingkungan serta tanaman. Ia membantu dalam proses pengomposan dalam alat pengompos, dan bagi tanaman, organisme ini bisa membantu asupan gizi untuk tanah yang berakibat perbaikan unsur hara pada tanah serta meningkatnya kesuburan tanaman kita entah itu sayuran, tanaman hias dan sebagainya.

                            Gambar Pembibitan Padi untuk metode SRI 
                             di Poktan Mojolebak - Mojosarirejo - Driyorejo

Di pasaran, memang tersedia MOL yang dibuat oleh pabrikan, misalnya EM4, tetapi harganya memang cukup mahal, sedangkan bila dibuat sendiri, biayanya relatif sangat murah, bahkan bisa gratis, padahal hasil akhirnya tetap sama, MOL yang memperbaiki unsur hara tanah, serta menyuburkan tanaman.
Pada dasarnya, MOL bisa dibuat dari berbagai macam hal, misalnya bonggol pisang, rebung, keong (bekicot), buah maja, nasi basi, atau bisa juga tape/ tapai baik tapai singkong, maupun tapai ketan.
Kali ini kita membuat MOL yang terbuat dari tapai singkong atau tapai ketan yang mudah ditemui di pasar, harganya pun tidak mahal. Seperti kita ketahui, tapai merupakan makanan yang terbentuk dari proses peragian. Kita tidak perlu membahas proses peragian yang terjadi pada tapai, namun kita akan menggunakan hasil proses peragiannya yang berupa tapai menjadi MOL.

                              Gambar Pembibitan Padi untuk Metode SRI yang banyak 
                                       menggunakan pupuk organik

Bahan yang kita perlukan untuk membuat MOL adalah:
• Botol kosong air mineral kemasan 1,5 liter • Segenggam (tangan tidak terkatup) tapai singkong • 10 sendok gula pasir • Air sehingga setelah tercampur bisa memenuhi 3/4 isi botol air mineral
Untuk membuatnya: Bersihkan tapai dari “tulang” singkong yang mungkin masih ada, lalu haluskan dengan tangan.
Larutkan gula pasir dengan air secukupnya, hingga seluruh gula pasir melarut.
Masukkan tapai dan larutan gula pasir tadi ke dalam botol air mineral yang sudah disiapkan.
Tambahkan air hingga mencapai kurang lebih 3/4 kapasitas botol ai mineral tersebut.
Tutup (bisa pakai telapak tangan atau tutup asli botolnya) lalu kocok hingga terlihat semua bahan tercampur. Tidak masalah bila nanti terlihat endapan tapai.
Bila saat mengocok tadi menggunakan tutup botol air mineralnya, bukalah tutup tersebut, karena memang tidak digunakan, artinya saat proses berikutnya botol tidak boleh ditutup karena akan menghalangi oksigen yang masuk dan keluar.
Letakkan di tempat teduh. Mungkin nanti akan ada semut- semut yang datang, namun tidak mengapa. Biarkan botol berisi larutan ini selama 1 minggu. Selama 1 minggu itu, akan terjadi proses pembentukan mikro organisme, dan bila dicium akan tercium bau yang sedikit manis- manis asam. Berarti larutan MOL yang kita buat sudah jadi.


Untuk memanfaatkan MOL ini, ambillah secangkir MOL, dan larutkan pada kurang lebih 5 – 7 liter air. Kemudian semprotkan secukupnya pada tanah tanaman, bukan pada tanamannya.
Perhatikan perkembangan tanaman dalam satu minggu. Insyaallah tanaman akan terlihat lebih subur, daun menghijau, sedangkan tanaman buah akan terlihat buah yang lebih baik baik ukuran maupun kualitasnya.
Memperbanyak MOLnya juga sangat mudah. Dari 1 botol MOL yang sudah jadi, bagi dua, lalu masing-masing ditambahkan larutan 10 sendok makan gula pasir serta air hingga mencapai 3/4 isi botol. Kemudian seperti biasa, tunggu hingga 1 minggu, dan MOL kembali bisa dimanfaatkan.

Selamat Mencoba..........!!!!

Selasa, 12 Februari 2013

MEMPRODUKSI MEDIA INFORMASI PENYULUHAN PERTANIAN



MEMPRODUKSI MEDIA INFORMASI
PENYULUHAN PERTANIAN

Pendampingan teknologi tidak cukup hanya dilakukan penyuluh pertanian melalui kunjungan, pertemuan kelompoktani dengan penyampaian materi secara lisan, tetapi juga diperlukan adanya dukungan materi teknologi yang akan berguna sebagai dokumentasi bagi petani.
Beberapa dekade yang lalu penyampaian materi informasi pertanian dilakukan dengan berbagai macam bentuk kemasan sajian media cetak, umumnya merupakan hasil produksi BIP ( Balai informasi Pertanian ) yang saat itu sebagai lembaga penanggung jawab keinformasian di bidang pertanian yang ada dimasing – masing ibukota Propinsi, namun seiring terlikuidasinya BIP ( Badan Informasi Pertanian ) lambat laun sangat dirasakan adanya kekurangan dukungan materi informasi pertanian yang sangat di perlukan oleh peyuluh pertanian dan petani.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, penyuluh pertanian dituntut mampu membuat media informasi pertanian sebagai mana tuntutan Peraturan Mentri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No : Per/02/Menpan/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuyluh Pertanian dan Angka Kreditnya.
Beberapa unsur kegiatan yang dapat dilakukan oleh penyuluh pertanian dalam menyampaikan materi informasi pertanian sebagai mana tuntutan Peraturan Mentri Negara pendayaguanaan Aparatur Negara No.:per/02/Mentan/2/2008 meliputi pembuatan materi informasi pertanian yang dikemas dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian berupa leaflet/liptan, folder, peta singkap, poster kartu kilat, brosur bahkan sampai ke media informasi pertanian melalui internet berupa website dan blog serta tuntutan kemampuan penyuluh pertanian untuk menulis karya tulis ilmiah melalu media masa yang tidak lain adalah tuntutan penulisan ilmiah popular yang berisiskan informasi tentang pengetahuan teknologi dan penulisan yang memberikan motivasi kepada petani dan masyarakat pertanian pemerhati di bidang pertanian.
Pembuat materi informasi pertanian yang dikemas dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian tidak harus dibuat melalui usaha percetkan. Apalagi peralatan computer pada kenyataannya sekarang ini di temukan ditingkat wilayah perdesaan. Menjadi penyuluh pertanian sekarang ini bukan hanya dituntut mampu melakukan pendampingan teknologi tetapi juga harus mau dan mampu berkaya berkolabrasi dengan ilmu pengetahuan lainnya yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan tulis menulis diantaranya karya tulis ilmiah populer.
Pernah diterbikan sebuah acuan pedoman bagi penyuluh pertanian dalam berkarya dibidang media informasi penyuluh pertanian, di antaranya adalah “ Pedoman Teknik Penulisan Beberapa Bahan Bacaan Penyuluhan Pertanian “ yang dikeluarkan oleh Badan Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian Departemen Pertanian pada tahun 1982 dan sekarang ini berganti nama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementrian Pertanian. Meskipun acuan pedoman pembuat media informasi pertanian relatif sudah cukup lama masa beredarnya namuan acuan aturan tersebut masih layak untuk diadopsi guna mendukung pembuatan penulisan materi informasi pertanian dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian.
Beberapa acuan pedoman yang dapat digunakan dalam membuat media informasi penyuluhan pertanian di antaranya adalah :
Leaflet/Liptan Adalah jenis salah satu media informasi penyuluhan pertanian dalam bentuk lembaran informasi pertanian yang disajikan dalam selmbar kertas berisikan uraian materi informasi pertanian, penampilan lembar leaflet/liptan tanpa ada pelipatan kertas. Pada bagian muka lembar leaflet berisikan judul tulisan dan uraian tulisan pembuka materi informasi yang akan disampaiakan dan pada bagian lembar belakang leaflet berisikan muatan isi materi lanjutan dari lembar depan leaflet. Isi materi informasi pertanian yang disampaikan melalui leflet/liptan harus singkat jelas dan padat berupa pokok – pokok uraian yang penting saja dengan mengunakan kalimat yang sederhana.
Untuk menarik minat sasaran pembaca leaflet/liptan sangat dianjurkan pembuatannya dilengkapi dengan pemberian gambar sederhana dan terfokus yang akan memperjelas materi tulisan. Leaflet/liptan dapat disampaikan kepada petani saat kegiatan kursus tani ,demonstrasi, karya wisata dan sebagainya.
Folder Adalah media informasi penyuluhan pertanian yang disajikan secara lembaran informasi pertanian dengan bentuk lembaran kertas yang dilipat – lipat secara teratur mulai dari dua lipatan kertas sampai pada belasan lipatan kertas tergantung dari lembar kertas yang digunakan. Umumnya folder yang digunakan untuk penyuluhan pertanian terdiri dari 3 lipatan kertas, dengan penyajian uraian materi yang berkesimbungan dari masing – masing lipatan kertas. Materi informasi pertanian yang disampaikan melalui folder harus berupa tulisan yang berisikan uraian singkat sistematis tentang suatu masalah, penulisan folder pada prinsipnya tidak berbeda dengan penulisan leaflet/liptan yang agak berbeda adalah cara penyajian pokok-pokok pembahasan yang pada folder disajikan lebih mendetail dan sistematis dibandingkan leaflet/ liptan dengan penyajian disesuaikan dengan kebutuhan. Penyajian ilustrasi gambar pada folder sangat dianjurkan dengan gambar yang sederhana dan di berikan warna.
Tidak bedanya dengan leaflet/liptan penyampaian folder kepda sasaran dapat dilakukan pada saat kegiatan kursus tani, demonstrasi, karya wisata dan dapat juga digunakan sebagai bahan diskusi kelompok pada saat kegiatan pertemuan kelompok.
Brosur adalah salah satu media informasi penyuluhan pertanian yang disampaikan dalam bentuk kemasan buku tipis dengan jumlah lembaran maximal 60 halaman, berisikan uraian singkat padat dan merupakan pedoman praktis yang yang dapat menjadi acuan petunjuk untuk melaksanakan suatu kegiatan.
Tulisan pada brosur harus sistematis dan berisikan uraian yang berguna table, tuntas, jelas, singkat dan padat. Penyajian brosur yang menarik harus dilengkapi dengan foto dan gambar.
Brosur selain dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi pembaca brosur juga dapat digunakan sebagai sumber bacaan pada kursus tani dan pertemuan kelompok tani.
Majalah adalah media massa cetak yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk penulisan untuk materi penyuluhan pertanian dengan dikemas dalam bentuk tulisan feature. Isi materi informasi pertanian yang disampaikan melalui majalah adalah tulisan feature yang harus selesai informasinnya dan dapat dengan mudah difahami oleh sasaran pembaca majalah yang notabene adalah masyarakat umum. Majalah biasanya terbit secara periodik secara bulanan maupun triwulan.
Bulletin adalah Media massa cetak yang satu ini mempunyai sifat penulisan yang tidak jauh beda dengan majalah, perbedaan nyata dari bulletin dengan majalah ada sasaran yang akan digarap. Umumnya bulletin akan menggarap sasaran pada suatu kelompok masyarakat yang tergabung dalam satu unit organisasi. Isi materi informasi yang disampaikan dalam bulletin harus terkait sesuai kebutuhan materi yang diperlukan anggota unit organisasi. Penyajian informasi pada bulletin dapat juga didukung dengan adanya foto.
Surat Kabar adalah Media massa cetak yang terbit harian, informasi penyuluhan pertanian yang disampaikan dalam surat kabar harus berupa motivasi anjuran dan mengingatkan kembali tentang suatu peristiwa informasi yang disampaikan adalah yang baru bagi pembacanya.
Penyampaian informasi penyuluhan pertanian yang dikemas dalam media cetak majalah, bulletin dan surat kabar informasi yang dikabarkan harus dikemas dalam bentuk tulisan feature pengetahuan atau feature perjalanan yang merupakan bentuk tulisan penyuluhan pertanian dan biasa dikenal sebagai penulisan ilmiah popular.
Website atau Blog adalah Media yang  mempunyai sifat penulisan yang tidak jauh beda dengan media massa cetak, perbedaan hanya pada medianya. Kalau website/blog penulisannya dituangkan di sebuah situs internet. Bisa melalui web/blog pribadi, BPP atau yang lain. Umumnya web/blog akan menggarap sasaran pada suatu kelompok masyarakat yang sudah mampu berinteraksi dengan internet. Kalau petani tidak mampu berinteraksi dengan internet, petani bisa minta bantuan putra/putrinya ataupun cucunya yang bisa mengoperasikan internet. Isi materi informasi yang disampaikan dalam web/blog harus terkait sesuai kebutuhan materi yang diperlukan oleh pembaca khususnya petani. Penyajian informasi pada web/blog dapat juga didukung dengan adanya foto, video dan fasilitas download .
Dengan penyuluhan pertanian mau dan mampu membuat materi informasi pertanian yang dikemas dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian secara mandiri dapat diartikan kerja penyuluhan pertanian tidak sia-sia bahkan bak pepatah sekali mendayung 2 atau 3 pulau terlampaui. Artinya penyuluh pertanian ikut membantu memecahkan permasalahan kurangnya dukungan media informasi pertanian sekaligus manjadi tabungan angka kredit bagi penyuluh pertanian sebagaimana tuntutan Peraturan Menteri Negara Pendayagunan Aparatur Negara No : Per/02/Menpan/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dan Angka kreditnya (dikutip dari sinar tani).

Kamis, 31 Januari 2013

PEMUPUKAN TANAMAN PADI


Untuk memahami pemupukan bagi tanaman padi, kita harus mengetahui umur tanaman padi terlebih dahulu. Sekarang ini banyak varietas padi yang dilepas pemerintah berumur genjah. Contoh, Inpari 10 berumur 108-116 hari dan Inpari 13 berumur 103 hari.
Tetapi untuk padi ciherang dan IR 64 umumnya berumur 115-125 hari.

FASE TUMBUH PADI
Dengan melihat 2 kondisi ini saja, kita akan kesulitan untuk menentukan kapan waktu pemupukan yang tepat bagi keduanya.
Untuk menentukan kapan tanaman padi dipupuk dilihat dari fase-fase tumbuhnya tanaman padi.
Ambil contoh padi ciherang yang berumur 115 – 125 hari.
Biasanya pembagian fase-fase ini adalah sbb :
- persemaian 20 hari
- fase vegetatif 35 hst
- fase generatif reproduktif 36-65 hst
- fase generatif pematangan 66-100 hst


- PUPUK DASAR, Sewaktu bibit pindah tanam, bibit perlu waktu sekitar 8-12 hst atau rata-rata 10 hst untuk dapat memperkokoh perakaran. Saat inilah, sebaiknya pemupukan pertama dilakukan. Sebab pada saat itu daun dan akar tanaman padi sudah mulai berkembang. Dengan demikian akan maksimal menyerap unsur hara.
Jangan diberikan pada waktu 0-5 hst, sebab daun dan akar tanaman padi belum berkembang dan masih dalam  kondisi stres. Artinya akar belum siap menerima pupuk. Bila kita berikan akan sia-sia, apalagi kita berikan pupuk urea dalam jumlah yang tinggi.  Sebab pupuk urea mudah menguap dan bersifat higroskopis. Pada waktu pemberian sebaiknya memperhatikan kondisi air. Sebaiknya sewaktu pemberian pupuk, saat kondisi air lagi macak-macak.

- PUPUK SUSULAN KE-1 . Diberikan sekitar pekan ke 3  ( sekitar 21-25 hst ) ditandai setelah para petani melakukan pengoyosan, saat inilah pemupukan dilakukan. Sewaktu pengoyosan dilakukan maka akar tanaman padi akan putus. Dengan putusnya akar, tanaman akan membentuk anakan baru.  Pada kondisi ini seperti ini, tanaman dapat maksimal penyerap unsur hara yang diberikan. Dengan demikian, tanaman padi akan menghasilkan jumlah anakan yang maksimal ke depannya.

- PUPUK SUSULAN KE-2. Diberikan sekitar umur tanaman mencapai pekan ke 5 ( sekitar 30-40 hst ). Masa ini adalah peralihan dari fase vegetatif ke generatif. Dalam kondisi ini tanaman sedang membutuhkan nutrisi yang tinggi. Hal ini ditandai dengan keluarnya daun bendera atau padi bunting. Artinya malai padi akan segera keluar. Pada umur tersebut adalah saat yang tepat pemupukan tahap ke 3 diberikan. Dengan demikian, tanaman padi akan menghasilkan malai yang optimal.
Jadi bila kita ingin melakukan pemupukan tanaman padi, lihatlah 3 kondisi yang disebutkan di atas. Saat itulah kondisi tanaman padi akan maksimal menyerap unsur hara yang kita berikan. hasilnya tentu saja akan optimal .................!!!!