Senin, 22 April 2013

HAMA & PENYAKIT PADI DI MUSIM HUJAN

Tanaman padi merupakan tanaman pokok untuk keperluan hidup, namun ia harus menghadapi berbagai tantangan dan kendala.baik berupa fisik, sosial/ekonomi dan biologis yang mengancam keberhasilan produksinya1. Salah satu yang menyebabkan petani gagal panen adalah kendala biologis yag sangat penting ialah adanya berbagai spesies organisme, yang biasanya disebut organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menyerang tanaman budidaya tersebut sehingga dapat mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi , atau bahkan meengalami gagal panen2. Dalam mengatisipasi terjadinya ledakan OPT maka perlu dilakukan pengamatam rutin, peramalan dan cara-cara pengendalian yang sesuai dengan konsep PHT 3.
Namun, sering kali para petani mengalami gagal panen hal ini disebabkan karena adanya penyakit dan hama yang menyerang tanaman padi. Oleh karena itu, kami mengangkat masalah ini agar dapat mengetahui dampak-dampak dan faktor-faktor petani gagal panen.Jenis-jenis penyakit di antara lainnya adalah:
1.      Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit kresek yang pada umumnya dikenal oleh masyarakat. Penyakit telah berkembang pada musim hujan maupun musim kemarau yang basah.
2.      Tungro merupakan pertumbuhan tanaman yang terhambat, kerdil dan jumlah anakan berkurang.
3.      Blas merupakan penyakit busuk leher (Blas leher malai).
4.      Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama yang sangat penting pada padi dan sering menimbulkan kerusakan yang menurunkan hasil secara nyat.
5.      Wereng Batang Coklat (WBC) muncul menjadi hama penting di Indonesia akibat penggunaan Insektisida secara berlebihan.
      Hawar Daun Bakteri (HDB)
Dikenal juga dengan sebutan Kresek :
Nama Lain       :  Hawar Daun Bakteri ( HDB) / Bacterial Leaf Blight ( BLB)
Penyebab         :  Bakteri Xanthomonas orizae
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
Penyebaran      :   Melalui Benih ,air, gesekan antar tanam
Bagian Tanaman yang diserang terutama pada titik tumbuh dan daun bendera . Kerusakan terberat terjadi apabila penyakit menyerang tanaman muda yang peka sehingga menimbulkan gejala kresek, dapat menyebabkan tanaman mati. Penyakit dapat terjadi pada semua stadia tanaman . Namun yang paling umum ialah terjadi pada saat tanaman mulai mencapai anakan maksimum sampai fase berbunga. Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedang pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight). Gejala diawali dengan bercak kelabu (water soaked) umumnya di bagian pinggir daun. Pada varietas yang rentan bercak berkembang terus, dan akhirnya membentuk hawar. Pada keadaan yang parah, pertanaman terlihat kering seperti terbakar.
Pengendalian    : Menggunakanbahan yang efektif dan tepat waktu saat masa penetrasi penyakit ke dalam tanaman. Dianjurkan pengendalian pada saat treatment (perlakuan benih), tanaman umur 14, 28, 42 hari setelah tanam ( HST).
 

Tungro
Penyebab         :   Virus Tungro
Vektor             :   Wereng Hijau
Fase serangan   :   Vegetatif dan Generatif
Penyebaran      :   Melalui vector yang sudah terinveksi virus
 
Serangan penyakit ini mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi.
Bila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda, sekitar umur 10-20 hari, akan menyebabkan kehilangan hasil sedikitnya 65%. Sedangkan untuk serangan saat tanaman berada pada fase akhir, kehilangan hasil tidak terlalu besar, yaitu sekitar 10-20%.
Pengendaliannya dengan cara memberantas berbagai jenis rumput liar yang merupakan sumber infeksi bagi penyakit ini, rotasi tanaman dengan palawija, menanam varietas yang tahan tungro, pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi, cabut dan bakar tanaman yang sakit, dan tanam dengan menggunakan sistem tabela atau SRI.
 
Blas
Nama Lain       :  Leaf Blast ( blas daun), Neck Blast (Blas leher), patah / potong leher
Penyebab         :  Jamur Pyrycularia oryzae
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
Penyebaran      :   Melalui Benih dan angin
 
Penyebab penyakit dapat menginfeksi tanaman pada  semua stadium tumbuh dan menyebabkan tanaman puso. Pada tanaman stadium vegetatif biasanya menginfeksi bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Pada stadium generatif selain menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai disebut blas leher (neck blast).
Gejala penyakit blas dapat timbul pada daun, batang, malai, dan gabah, tetapi yang umum adalah pada daun dan pada leher malai. Gejala pada daun berupa bercak-bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya memmpunyai tepi coklat atau coklat kemerahan. Gejala penyakit blas yang khas adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat.
Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kelebihan nitrogen dan kekurangan air menambah kerentanan tanaman. Diduga bahwa kedua faktor tersebut menyebabkan kadar silikon tanaman rendah. Kandungan silikon dalam jaringan tanaman menentukan ketebalan dan kekerasan dinding sel sehingga mempengaruhi terjadinya penetrasi patogen kedalam jaringan tanaman. Tanaman padi yang berkadar silikon rendah akan lebih rentan terhadap infeksi patogen. Pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit blas. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi.
Pengendalian : Menggunakan bahan yang efektif dan tepat waktu saat masa penetrasi ke dalam tanaman , dianjurkan pengendalian pada saat tanaman umur 15 , 30, 45 dan 65 hari.
 
Penggerek Batang Padi (PBP)
Nama Lain       :  Beluk / Sundep
Penyebab         :  penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), Penggerk batang padi bergaris (Chilo supressalis), penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens). 
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
Terdapat empat spesies penggerek batang padi, yaitu penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata), Penggerk batang padi bergaris (Chilo supressalis) dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens).  Tiga jenis pertama tergolong dalam family Pyralidae dan yang terakhir Family Noctuidae yang semuanya termasuk ordo Lepidoptera. Ke empat jenis penggerk batang ini mempunyai cara hidup hampir sama dan gejala kerusakan yang ditimbulkan juga persis sama.
Keempat jenis penggerek batang padi menimbulkan gejala kerusakan yang sama karena cara hidupnya sama. Liang gerek yang dibuat larva dapat memutuskan perjalanan air dan unsur hara dari akar sehingga melemahkan tanaman padi. Kerusakan yang timbul tergantung pada fase pertumbuhan tanaman.
Serangan pada fase Vegetatif maka daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuhnya di makan. Pucukyang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut. Gejala ini disebut SUNDEP.
Kalau serangan terjadi pada fase Generatip, maka malai akan mati karena pangkalnya dikerat oleh larva. Malai yang mati akan tetap tegak, berwarna abu-abu putih dan bulirnya hampa. Malai ini mudah dicabut dan pada pangkalnya terdapat bekas gigitan larva. Gejala serangan pada tahap ini disebut BELUK
Pengendalian
Kultur Teknis

  • Menanan varietas yang cepat dewasa. pada varietas ini perkembangbiakan penggerk batang tidak akan lebih dari satu generasi, sehingga populasi tidak terlalu tinggi dan kerusakan akan berkurang
  • Menanan serempak, selisih waktu tanam jangan melewati 3-4 minggu.
  • Membuang tunggul jerami segera setelah panen dengan cara membenamkannya pada waktu pengolahan tanah, atau memotong tungul padi persis dipermukaan tanah, cara ini dapat membunuh larva dan pupa penggerek batang yang bertahan di tunggul tersebut.
  • Menghindari kelebihan penggunaan pupuk N dan membagi waktu pemberiannya.
  • Membuang bibit padi yang mengandung telur penggerk batang sebelum penanaman
Pengendalian Hayati
       Terdapat beberapa musuh alami yanga dapat menekan populasi penggerk batang. Tabuhan Family Trichogrrammatidae, Scelionidae dan Eulophidae yang dapat bertindak sebagai parasitoid
 
Wereng Batang Coklat (WBC)
Nama Lain       :  Wereng coklat
Penyebab         :  Nilaparvata lugens Stal.
Fase serangan   :  Vegetatif dan Generatif
 
Wereng coklat (Nilaparvata lugens) sampai saat ini masih dianggap sebagai hama utama pada pertanaman padi karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim pertanaman.
Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat. Hal ini juga merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP >200 dan sebagainya). Tergantung pada tingkat kerusakan, serangan wereng coklat dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kuintal gabah sampai puso.
Teknologi pengendalian hama menggunakan ambang ekonomi
berdasar musuh alami
Pengendalian wereng coklat menggunakan ambang kendali berda­sar musuh alami dapat digunakan pada semua daerah serangan hama.  Pekerjaan yang mesti dilakukan sebagai berikut:

  1. Pengamatan wereng coklat dilakukan  seminggu sekali atau paling lambat 2 minggu sekali
  2. Amati pada 20 rumpun arah diagonal, pada hamparan 5 ha dengan .(varietas sama dan umur yang sama diambil 2 contoh masing-masing 20 rumpun.
  3. Hitung jumlah wereng (wereng coklat +  wereng punggung putih) dan musuh alami (laba-laba Ophione nigrofasciata, Paederus fuscifes, Coccinella, dan kepik Cyrtorhinus lividipennis.
  4. Gunakan formula Baehaki  dibawah ini
Di = Ai - (5Bi+Ci)  ekor/rumpun
              20
Ai: Populasi wereng (wereng coklat + wereng punggung putih} pada 20 rumpun pada minggu ke-i.
Bi:  Populasi predator Laba-laba + Ophionea nigrfasciata + Paederus fuscifes Coccinella pada 20 rumpun pada minggu ke-i
Ci: Populasi Cyrtorhinus lividipennis pada 20 rumpun
Di: Wereng coklat terkoreksi per rumpun
Aplikasi insektisida
Jika dan hanya jika nilai Di > 5 ekor wereng coklat terkorek­si/rumpun pada padi berumur <40 hst atau nilai  Di >20 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst perlu diapli­kasi dengan insektisida  yang direkomendasikan.
Jika dan hanya jika nilai Di < 5 ekor wereng coklat terkorek­si/rumpun pada padi berumur <40 hst atau nilai Di <20 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst tidak perlu diaplikasi dengan insektisida, tetapi teruskan amati pada minggu berikutnya.
Pada ambang kendali berdasarkan musuh alami terabaikan perhitungannya sama dengan di atas.  Perbedaannya yaitu jika nilai Di > 5 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi beru­mur <40 hst atau nilai Di >20 ekor wereng coklat terkoreksi/rumpun pada padi berumur > 40hst tidak perlu diaplikasi dengan insekti­sida dan dibiarkan sampai pengamatan minggu berikutnya.  Apabila hasil analisis minggu berikutnya menunjukkan nilai Di lebih besar dari nilai Di minggu yang lalu, maka perlu dikemdalikan dengan insektisida tersebut di atas.  Apabila hasil analisis minggu berikutnya menunjukkan nilai  Di lebih kecil atau sama dengan nilai Di minggu yang lalu, maka tidak perlu diaplikasi dan amati lagi pada minggu selanjutnya.

Selasa, 26 Maret 2013

CARA MEMBUAT MOL (MIKRO ORGANISME LOKAL)

Untuk petani organik, kompos merupakan pupuk yang sering diaplikasikan ke lahan.  Untuk membantu proses dekomposisi bahan - bahan organik menjadi kompos, diperlukan bahan-bahan decomposer. Berbagai macam bahan-bahan decomposer banyak beredar di pasar (seperti EM4, Petrofast, dll). Petani yang ingin mandiri tidak ingin selalu bergantung dengan pihak lain, terutama pihak - pihak penyedia sarana produksi pertanian. Petani bisa membuat sendiri decomposer dari bahan - bahan yang ada di sekitar kita berupa MOL.
MOL di sini adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal. MOL merupakan organisme yang sangat bermanfaat terutama untuk lingkungan serta tanaman. Ia membantu dalam proses pengomposan dalam alat pengompos, dan bagi tanaman, organisme ini bisa membantu asupan gizi untuk tanah yang berakibat perbaikan unsur hara pada tanah serta meningkatnya kesuburan tanaman kita entah itu sayuran, tanaman hias dan sebagainya.

                            Gambar Pembibitan Padi untuk metode SRI 
                             di Poktan Mojolebak - Mojosarirejo - Driyorejo

Di pasaran, memang tersedia MOL yang dibuat oleh pabrikan, misalnya EM4, tetapi harganya memang cukup mahal, sedangkan bila dibuat sendiri, biayanya relatif sangat murah, bahkan bisa gratis, padahal hasil akhirnya tetap sama, MOL yang memperbaiki unsur hara tanah, serta menyuburkan tanaman.
Pada dasarnya, MOL bisa dibuat dari berbagai macam hal, misalnya bonggol pisang, rebung, keong (bekicot), buah maja, nasi basi, atau bisa juga tape/ tapai baik tapai singkong, maupun tapai ketan.
Kali ini kita membuat MOL yang terbuat dari tapai singkong atau tapai ketan yang mudah ditemui di pasar, harganya pun tidak mahal. Seperti kita ketahui, tapai merupakan makanan yang terbentuk dari proses peragian. Kita tidak perlu membahas proses peragian yang terjadi pada tapai, namun kita akan menggunakan hasil proses peragiannya yang berupa tapai menjadi MOL.

                              Gambar Pembibitan Padi untuk Metode SRI yang banyak 
                                       menggunakan pupuk organik

Bahan yang kita perlukan untuk membuat MOL adalah:
• Botol kosong air mineral kemasan 1,5 liter • Segenggam (tangan tidak terkatup) tapai singkong • 10 sendok gula pasir • Air sehingga setelah tercampur bisa memenuhi 3/4 isi botol air mineral
Untuk membuatnya: Bersihkan tapai dari “tulang” singkong yang mungkin masih ada, lalu haluskan dengan tangan.
Larutkan gula pasir dengan air secukupnya, hingga seluruh gula pasir melarut.
Masukkan tapai dan larutan gula pasir tadi ke dalam botol air mineral yang sudah disiapkan.
Tambahkan air hingga mencapai kurang lebih 3/4 kapasitas botol ai mineral tersebut.
Tutup (bisa pakai telapak tangan atau tutup asli botolnya) lalu kocok hingga terlihat semua bahan tercampur. Tidak masalah bila nanti terlihat endapan tapai.
Bila saat mengocok tadi menggunakan tutup botol air mineralnya, bukalah tutup tersebut, karena memang tidak digunakan, artinya saat proses berikutnya botol tidak boleh ditutup karena akan menghalangi oksigen yang masuk dan keluar.
Letakkan di tempat teduh. Mungkin nanti akan ada semut- semut yang datang, namun tidak mengapa. Biarkan botol berisi larutan ini selama 1 minggu. Selama 1 minggu itu, akan terjadi proses pembentukan mikro organisme, dan bila dicium akan tercium bau yang sedikit manis- manis asam. Berarti larutan MOL yang kita buat sudah jadi.


Untuk memanfaatkan MOL ini, ambillah secangkir MOL, dan larutkan pada kurang lebih 5 – 7 liter air. Kemudian semprotkan secukupnya pada tanah tanaman, bukan pada tanamannya.
Perhatikan perkembangan tanaman dalam satu minggu. Insyaallah tanaman akan terlihat lebih subur, daun menghijau, sedangkan tanaman buah akan terlihat buah yang lebih baik baik ukuran maupun kualitasnya.
Memperbanyak MOLnya juga sangat mudah. Dari 1 botol MOL yang sudah jadi, bagi dua, lalu masing-masing ditambahkan larutan 10 sendok makan gula pasir serta air hingga mencapai 3/4 isi botol. Kemudian seperti biasa, tunggu hingga 1 minggu, dan MOL kembali bisa dimanfaatkan.

Selamat Mencoba..........!!!!

Selasa, 12 Februari 2013

MEMPRODUKSI MEDIA INFORMASI PENYULUHAN PERTANIAN



MEMPRODUKSI MEDIA INFORMASI
PENYULUHAN PERTANIAN

Pendampingan teknologi tidak cukup hanya dilakukan penyuluh pertanian melalui kunjungan, pertemuan kelompoktani dengan penyampaian materi secara lisan, tetapi juga diperlukan adanya dukungan materi teknologi yang akan berguna sebagai dokumentasi bagi petani.
Beberapa dekade yang lalu penyampaian materi informasi pertanian dilakukan dengan berbagai macam bentuk kemasan sajian media cetak, umumnya merupakan hasil produksi BIP ( Balai informasi Pertanian ) yang saat itu sebagai lembaga penanggung jawab keinformasian di bidang pertanian yang ada dimasing – masing ibukota Propinsi, namun seiring terlikuidasinya BIP ( Badan Informasi Pertanian ) lambat laun sangat dirasakan adanya kekurangan dukungan materi informasi pertanian yang sangat di perlukan oleh peyuluh pertanian dan petani.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, penyuluh pertanian dituntut mampu membuat media informasi pertanian sebagai mana tuntutan Peraturan Mentri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No : Per/02/Menpan/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuyluh Pertanian dan Angka Kreditnya.
Beberapa unsur kegiatan yang dapat dilakukan oleh penyuluh pertanian dalam menyampaikan materi informasi pertanian sebagai mana tuntutan Peraturan Mentri Negara pendayaguanaan Aparatur Negara No.:per/02/Mentan/2/2008 meliputi pembuatan materi informasi pertanian yang dikemas dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian berupa leaflet/liptan, folder, peta singkap, poster kartu kilat, brosur bahkan sampai ke media informasi pertanian melalui internet berupa website dan blog serta tuntutan kemampuan penyuluh pertanian untuk menulis karya tulis ilmiah melalu media masa yang tidak lain adalah tuntutan penulisan ilmiah popular yang berisiskan informasi tentang pengetahuan teknologi dan penulisan yang memberikan motivasi kepada petani dan masyarakat pertanian pemerhati di bidang pertanian.
Pembuat materi informasi pertanian yang dikemas dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian tidak harus dibuat melalui usaha percetkan. Apalagi peralatan computer pada kenyataannya sekarang ini di temukan ditingkat wilayah perdesaan. Menjadi penyuluh pertanian sekarang ini bukan hanya dituntut mampu melakukan pendampingan teknologi tetapi juga harus mau dan mampu berkaya berkolabrasi dengan ilmu pengetahuan lainnya yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan tulis menulis diantaranya karya tulis ilmiah populer.
Pernah diterbikan sebuah acuan pedoman bagi penyuluh pertanian dalam berkarya dibidang media informasi penyuluh pertanian, di antaranya adalah “ Pedoman Teknik Penulisan Beberapa Bahan Bacaan Penyuluhan Pertanian “ yang dikeluarkan oleh Badan Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian Departemen Pertanian pada tahun 1982 dan sekarang ini berganti nama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementrian Pertanian. Meskipun acuan pedoman pembuat media informasi pertanian relatif sudah cukup lama masa beredarnya namuan acuan aturan tersebut masih layak untuk diadopsi guna mendukung pembuatan penulisan materi informasi pertanian dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian.
Beberapa acuan pedoman yang dapat digunakan dalam membuat media informasi penyuluhan pertanian di antaranya adalah :
Leaflet/Liptan Adalah jenis salah satu media informasi penyuluhan pertanian dalam bentuk lembaran informasi pertanian yang disajikan dalam selmbar kertas berisikan uraian materi informasi pertanian, penampilan lembar leaflet/liptan tanpa ada pelipatan kertas. Pada bagian muka lembar leaflet berisikan judul tulisan dan uraian tulisan pembuka materi informasi yang akan disampaiakan dan pada bagian lembar belakang leaflet berisikan muatan isi materi lanjutan dari lembar depan leaflet. Isi materi informasi pertanian yang disampaikan melalui leflet/liptan harus singkat jelas dan padat berupa pokok – pokok uraian yang penting saja dengan mengunakan kalimat yang sederhana.
Untuk menarik minat sasaran pembaca leaflet/liptan sangat dianjurkan pembuatannya dilengkapi dengan pemberian gambar sederhana dan terfokus yang akan memperjelas materi tulisan. Leaflet/liptan dapat disampaikan kepada petani saat kegiatan kursus tani ,demonstrasi, karya wisata dan sebagainya.
Folder Adalah media informasi penyuluhan pertanian yang disajikan secara lembaran informasi pertanian dengan bentuk lembaran kertas yang dilipat – lipat secara teratur mulai dari dua lipatan kertas sampai pada belasan lipatan kertas tergantung dari lembar kertas yang digunakan. Umumnya folder yang digunakan untuk penyuluhan pertanian terdiri dari 3 lipatan kertas, dengan penyajian uraian materi yang berkesimbungan dari masing – masing lipatan kertas. Materi informasi pertanian yang disampaikan melalui folder harus berupa tulisan yang berisikan uraian singkat sistematis tentang suatu masalah, penulisan folder pada prinsipnya tidak berbeda dengan penulisan leaflet/liptan yang agak berbeda adalah cara penyajian pokok-pokok pembahasan yang pada folder disajikan lebih mendetail dan sistematis dibandingkan leaflet/ liptan dengan penyajian disesuaikan dengan kebutuhan. Penyajian ilustrasi gambar pada folder sangat dianjurkan dengan gambar yang sederhana dan di berikan warna.
Tidak bedanya dengan leaflet/liptan penyampaian folder kepda sasaran dapat dilakukan pada saat kegiatan kursus tani, demonstrasi, karya wisata dan dapat juga digunakan sebagai bahan diskusi kelompok pada saat kegiatan pertemuan kelompok.
Brosur adalah salah satu media informasi penyuluhan pertanian yang disampaikan dalam bentuk kemasan buku tipis dengan jumlah lembaran maximal 60 halaman, berisikan uraian singkat padat dan merupakan pedoman praktis yang yang dapat menjadi acuan petunjuk untuk melaksanakan suatu kegiatan.
Tulisan pada brosur harus sistematis dan berisikan uraian yang berguna table, tuntas, jelas, singkat dan padat. Penyajian brosur yang menarik harus dilengkapi dengan foto dan gambar.
Brosur selain dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi pembaca brosur juga dapat digunakan sebagai sumber bacaan pada kursus tani dan pertemuan kelompok tani.
Majalah adalah media massa cetak yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk penulisan untuk materi penyuluhan pertanian dengan dikemas dalam bentuk tulisan feature. Isi materi informasi pertanian yang disampaikan melalui majalah adalah tulisan feature yang harus selesai informasinnya dan dapat dengan mudah difahami oleh sasaran pembaca majalah yang notabene adalah masyarakat umum. Majalah biasanya terbit secara periodik secara bulanan maupun triwulan.
Bulletin adalah Media massa cetak yang satu ini mempunyai sifat penulisan yang tidak jauh beda dengan majalah, perbedaan nyata dari bulletin dengan majalah ada sasaran yang akan digarap. Umumnya bulletin akan menggarap sasaran pada suatu kelompok masyarakat yang tergabung dalam satu unit organisasi. Isi materi informasi yang disampaikan dalam bulletin harus terkait sesuai kebutuhan materi yang diperlukan anggota unit organisasi. Penyajian informasi pada bulletin dapat juga didukung dengan adanya foto.
Surat Kabar adalah Media massa cetak yang terbit harian, informasi penyuluhan pertanian yang disampaikan dalam surat kabar harus berupa motivasi anjuran dan mengingatkan kembali tentang suatu peristiwa informasi yang disampaikan adalah yang baru bagi pembacanya.
Penyampaian informasi penyuluhan pertanian yang dikemas dalam media cetak majalah, bulletin dan surat kabar informasi yang dikabarkan harus dikemas dalam bentuk tulisan feature pengetahuan atau feature perjalanan yang merupakan bentuk tulisan penyuluhan pertanian dan biasa dikenal sebagai penulisan ilmiah popular.
Website atau Blog adalah Media yang  mempunyai sifat penulisan yang tidak jauh beda dengan media massa cetak, perbedaan hanya pada medianya. Kalau website/blog penulisannya dituangkan di sebuah situs internet. Bisa melalui web/blog pribadi, BPP atau yang lain. Umumnya web/blog akan menggarap sasaran pada suatu kelompok masyarakat yang sudah mampu berinteraksi dengan internet. Kalau petani tidak mampu berinteraksi dengan internet, petani bisa minta bantuan putra/putrinya ataupun cucunya yang bisa mengoperasikan internet. Isi materi informasi yang disampaikan dalam web/blog harus terkait sesuai kebutuhan materi yang diperlukan oleh pembaca khususnya petani. Penyajian informasi pada web/blog dapat juga didukung dengan adanya foto, video dan fasilitas download .
Dengan penyuluhan pertanian mau dan mampu membuat materi informasi pertanian yang dikemas dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian secara mandiri dapat diartikan kerja penyuluhan pertanian tidak sia-sia bahkan bak pepatah sekali mendayung 2 atau 3 pulau terlampaui. Artinya penyuluh pertanian ikut membantu memecahkan permasalahan kurangnya dukungan media informasi pertanian sekaligus manjadi tabungan angka kredit bagi penyuluh pertanian sebagaimana tuntutan Peraturan Menteri Negara Pendayagunan Aparatur Negara No : Per/02/Menpan/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dan Angka kreditnya (dikutip dari sinar tani).

Kamis, 31 Januari 2013

PEMUPUKAN TANAMAN PADI


Untuk memahami pemupukan bagi tanaman padi, kita harus mengetahui umur tanaman padi terlebih dahulu. Sekarang ini banyak varietas padi yang dilepas pemerintah berumur genjah. Contoh, Inpari 10 berumur 108-116 hari dan Inpari 13 berumur 103 hari.
Tetapi untuk padi ciherang dan IR 64 umumnya berumur 115-125 hari.

FASE TUMBUH PADI
Dengan melihat 2 kondisi ini saja, kita akan kesulitan untuk menentukan kapan waktu pemupukan yang tepat bagi keduanya.
Untuk menentukan kapan tanaman padi dipupuk dilihat dari fase-fase tumbuhnya tanaman padi.
Ambil contoh padi ciherang yang berumur 115 – 125 hari.
Biasanya pembagian fase-fase ini adalah sbb :
- persemaian 20 hari
- fase vegetatif 35 hst
- fase generatif reproduktif 36-65 hst
- fase generatif pematangan 66-100 hst


- PUPUK DASAR, Sewaktu bibit pindah tanam, bibit perlu waktu sekitar 8-12 hst atau rata-rata 10 hst untuk dapat memperkokoh perakaran. Saat inilah, sebaiknya pemupukan pertama dilakukan. Sebab pada saat itu daun dan akar tanaman padi sudah mulai berkembang. Dengan demikian akan maksimal menyerap unsur hara.
Jangan diberikan pada waktu 0-5 hst, sebab daun dan akar tanaman padi belum berkembang dan masih dalam  kondisi stres. Artinya akar belum siap menerima pupuk. Bila kita berikan akan sia-sia, apalagi kita berikan pupuk urea dalam jumlah yang tinggi.  Sebab pupuk urea mudah menguap dan bersifat higroskopis. Pada waktu pemberian sebaiknya memperhatikan kondisi air. Sebaiknya sewaktu pemberian pupuk, saat kondisi air lagi macak-macak.

- PUPUK SUSULAN KE-1 . Diberikan sekitar pekan ke 3  ( sekitar 21-25 hst ) ditandai setelah para petani melakukan pengoyosan, saat inilah pemupukan dilakukan. Sewaktu pengoyosan dilakukan maka akar tanaman padi akan putus. Dengan putusnya akar, tanaman akan membentuk anakan baru.  Pada kondisi ini seperti ini, tanaman dapat maksimal penyerap unsur hara yang diberikan. Dengan demikian, tanaman padi akan menghasilkan jumlah anakan yang maksimal ke depannya.

- PUPUK SUSULAN KE-2. Diberikan sekitar umur tanaman mencapai pekan ke 5 ( sekitar 30-40 hst ). Masa ini adalah peralihan dari fase vegetatif ke generatif. Dalam kondisi ini tanaman sedang membutuhkan nutrisi yang tinggi. Hal ini ditandai dengan keluarnya daun bendera atau padi bunting. Artinya malai padi akan segera keluar. Pada umur tersebut adalah saat yang tepat pemupukan tahap ke 3 diberikan. Dengan demikian, tanaman padi akan menghasilkan malai yang optimal.
Jadi bila kita ingin melakukan pemupukan tanaman padi, lihatlah 3 kondisi yang disebutkan di atas. Saat itulah kondisi tanaman padi akan maksimal menyerap unsur hara yang kita berikan. hasilnya tentu saja akan optimal .................!!!!

Selasa, 25 Desember 2012

SISTEM JAJAR LEGOWO PADA PADI

Tanaman Padi merupakan salah satu komoditas strategis baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Pada umumnya usahatani padi masih merupakan tulang punggung perekonomian keluarga tani dan perekonomian pedesaan. Untuk mencapai target atau sasaran tersebut maka diluncurkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), dengan mengimplementasikan strategi Peningkatan produktivitas,Perluasan areal, Pengamanan produksi.

JAJAR LEGOWO
Legowo menurut bahasa jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang. Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem tanam tersebut juga memanipulasi lokasi tanaman sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak. Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada dipinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.
Gbr. Tanam Padi sistem jajar Legowo di Poktan Randegan Sari - Kec. Driyorejo

Legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun maupun antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun padi di dalam barisan dan memperlebar jarak antar barisan. Pada sistem jajar legowo dua baris semua rumpun padi berada di barisan pinggir dari pertanaman. Akibatnya semua rumpun padi tersebut memperoleh manfaat dari pengaruh pinggir (border effect). Permana (1995) melaporkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1,5 – 2 kali lipat lebih tinggi dari produksi pada yang berada di bagian dalam.
Paket budidaya tanaman padi sawah sistem legowo merupakan paket teknologi yang dikembang kan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi beras dalam upaya pemerintah dalam kegiatan intensitifikasi pertanian dalam kegiatan pembangunan pertanian.
Sistem legowo ini memilki pola tanam monokultur dengan populasi tananam 37.000/Ha. Penyemaian benih pada sistem legowo ini dengan cara benih disebar pada bedengan-bedengan yang terisolasi di luar areal penanaman Bibit dipindahkan ke lahan pada umur 21 hari. Bila lokasi penanaman terdapat penyakit akar gada, maka penyemaian dilakukan pada kantong plastik atau kantong yang dibuat dari daun pisang dan tanah diambil dari lokasi yang belum terinfeksi penyakit tersebut, kemudian bibit baru dipindahkan ke lapangan pada umur 45 hari.

Gbr. Tanam Padi sistem jajar Legowo di Poktan Bunut - Randegan Sari - Kec. Driyorejo

Keuntungan Penanaman padi dengan sistem jajar legowo dua baris diantaranya  :
  1. Semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir),
  2. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah,
  3. Penyediaan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong mas atau untuk mina padi, dan
  4. Penggunaan pupuk lebih berdaya guna (suhendrata et al, 2004: badan litbang pertanian, 2007a; suhendrata et al, 2008).
Ada beberapa tipe sistem tanam jajar legowo:
  1. Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
  2. Jajar legowo 3:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
  3. Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.
Berdasarkan hasil pengkajian menunjukkan bahwa tanam sistem jajar legowo dua baris dengan jarak tanam 20 x 10 x 40 cm dapat meningkatkan produksi antara 560 – 1.550 kg/ha dibandingkan dengan taman sistem tegel dengan jarak tanam 20 x 20 cm, dan R/C meningkat dari 1,16 menjadi 1,43 dengan peningkatan keuntungan Rp1.352.000/ha (Widarto dan Yulianto, 2001).
Hasil pengkajian yang dilaksanakan di Desa Palur Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo pada MT I 2007/2008 (November 2007- Maret 2008) menunjukkan bahwa dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo 4:1 (empat baris) dapat meningkatlkan produktivitas padi varietas Cisantana rata-rata ± 1,03 t/ha atau 18,00% dibandingkan dengan sistem tanam tegel, sedangkan system tanam jajar legowo 2:1 (dua baris) di Desa Gapuro, Kecamatan Warung Asem, Kabupaten Batang pada MT II (Juni – September) 2007 dapat meningkatkan produktivitas padi varietas Mekongga rata-rata ± 1,01 t/ha atau 14,15% dibandingkan dengan sistem tanam tegel.
Adapun manfaat sistem tanam jajar legowo adalah  :
  1. Menambah jumlah tanaman padi seperti perhitungan diatas
  2. Otomatis juga akan meningkatkan produksi tanaman padi
  3. Memperbaiki kualitas gabah dengan semakin banyaknya tanaman pinggir
  4. Mengurangi serangan penyakit
  5. Mengurangi tingkat serangan hama
  6. Mempermudah dalam perawatan baik itu pemupukan maupun penyemprotan pestisida
  7. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian dalam baris tanaman
Selain manfaat sistem tanam jajar legowo juga punya kelemahan antara lain:
  1. Membutuhkan tenaga tanam yang lebih banyak dan waktu tanam yang lebih lama pula
  2. Membutuhkan benih yang lebih banyak dengan semakin banyaknya populasi.
  3. Biasanya pada legowonya akan lebih banyak ditumbuhi rumput

Selasa, 06 November 2012

BERTANAM BELIMBING DALAM POT

BUAH BELIMBING


a. Penyiapan bibit

Belimbing dapat dibedakan menjadi dua kelompok :
1. Belimbing manis (Averrhoa carambola)
2. Belmibing wuluh (Averrhoa bilimbi)
Banyak kultur unggul yang banyak di budidayakan antara lain :
Belimbing Philipina, Parir, Sembiring, Dewi, Bangkok, Malaya, dll





 

b. Perbanyakan

Tanaman belimbing dapat diperbanyak dengan cara melalui biji cara vegetatif.

Buah Belimbing
c. Pemeliharaan

Belimbing dalam pot membutuhkan perawatan yang lebih cermat dibanding yang hidup di tanah. Penyiraman, pemberian pupuk, pemangkasan serta penggantian media tanam dalam pot merupakan kegiatan perawatan yang pokok.

TEKNIK BUDIDAYA PADI HIBRIDA


Padi hibrida adalah turunan pertama (F1) dari persilangan antara dua galur murni. Varietas padi hibrida yang akan dikembangkan merupakan generasi F1 hasil persilangan antara galur mandul jantan (A) dengan restorer (R).
Ada 2 varietas yang telah dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Padi, yaitu varietas Rokan dan Maro. Kedua varietas ini mempunyai daya hasil tinggi, di lokasi yang sesuai dapat menghasilkan 10 s.d. 15 ton / hektar lebih tinggi daripada varietas IR 64. Namun demikian, kedua varietas hibrida ini tidak selalu memberikan hasil yang tinggi daripada IR 64 di semua lokasi. Artinya, tidak semua lokasi sesuai untuk budidaya padi hibrida tersebut.
Dengan sifat – sifat seperti diuraikan di atas, padi hibrida dianjurkan untuk dibudidayakan di lokasi yang sesuai pada lahan sawah yang subur dengan irigasi terjamin dan bukan daerah endemik hama wereng coklat dan penyakit virus tungro.


TEHNIK BUDIDAYA

1. Benih

Benih padi hibrida hanya dapat digunakan untuk satu kali musim pertanaman. Karena benih dari hasil pertanaman padi hibrida tidak dapat ditanam kembali, maka setiap kali menanam harus menggunakan benih baru. Untuk 1 hektar areal pertanaman membutuhkan antara 10 – 20 kg benih. Sebelum disebar, benih direndam selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam selama 24 jam ditempat yang aman.

2. Pesemaian

- Areal untuk lahan pesemaian diusahakan bukan bekas tanaman padi atau bero untuk menghindari benih tercampur dengan padi varietas lain.
- Tanah diolah, dicangkul atau dibajak, dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 7 hari agar gabah yang ada dalam tanah tumbuh sehingga bisa dibersihkan sebelum benih disebar.
- Buat bedengan dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm dan panjang disesuaikan dengan ukuran petak dan kebutuhan.
- Pupuk pesemaian dengan Urea, SP.36 dan KCl masing-masing sebanyak 5 gr/m2.
- Sebar benih yang telah diperam dengan merata.

3. Persiapan Lahan.

- Tanah diolah secara sempurna yaitu dibajak I, dibiarkan selama 5-7 hari dalam keadaan macak-macak kemudian dibajak II dan digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah.
Untuk menekan pertumbuhan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot dengan herbisida pratumbuh dan dibiarkan selama 7-10 hari.

4. Penanaman.

- Penanaman dilakukan saat bibit berumur 21 hari.
- Jarak tanam 20 x 20 cm, satu tanaman per rumpun, atau pakai sistem jajar legowo 40 x 20 x 10 cm.
- Biasanya pada umur 21 hari ada sebagian bibit yang telah mempunyai anakan karena populasi bibit dipesemaian lebih jarang dari yang biasa dipraktekan petani. Bibit yang telah mempunyai anakan tidak boleh dipisahkan pada saat menanam.

5. Pemupukan.

a. Musim kemarau
- Takaran pupuk : 300 kg urea, 100 kg SP 36
dan 150 kg KCl/ha.
- Waktu pemberian :
1. Saat tanam : 60 kg urea + 100 kg SP 36
+ 100 kg KCl/ha.
2. 4 MST : 90 kg urea /ha.
3. 7 MST : 75 kg urea + 50 kg KCl/ha.
4. 5% berbunga : 75 kg urea/ha.
b. Musim hujan
- Takaran pupuk : 250 kg urea, 100 kg SP 36
dan 150 kg KCl/ha.
- Waktu pemberian :
1. Saat tanam : 50 kg urea + 100 kg SP 36
+ 100 kg KCl/ha.
2. 4 MST : 75 kg urea /ha.
3. 7 MST : 75 kg urea + 50 kg KCl/ha.
4. 5% berbunga : 50 kg urea/ha.


6. Pemeliharaan Tanaman

- Penyiangan dilakukan secara intensif paling sedikit 2 kali menjelang pemupukan 2 dan 3

- Padi hibrida peka terhadap penyakit tungro dan hama wereng coklat, oleh karena itu hindari pengembangan di daerah endemis hama dan penyakit, terapkan PHT dengan monitoring keberadaan tungro dan populasi wereng coklat. Perhatikan juga serangan hama tikus dan penerbangan ngengat penggerek batang.
- Insektisida yang manjur mengendalikan hama wereng coklat dan wereng punggung putih diantaranya fipronil dan imidakloprid. Insektisida buprofezin juga dapat digunakan untuk mengendalikan. Untuk mengendalikan penyakit tungro dapat digunakan insektisida imidakloprid, tiametoksan, etofenproks dan karbofuran.

7. Panen

- Saat panen yang tepat adalah pada waktu biji telah masak fisiologis, atau sekitar 90 % malai telah menguning.
- Setelah dipanen, gabah harus segera dikeringkan agar diperoleh rendemen dan mutu beras yang baik.
- Pada prinsipnya cara panen dan pengolahan hasil padi hibrida tidak berbeda dengan padi biasa (padi inbrida).