Kamis, 13 Agustus 2015

SAMBUNG RASA DI UJUNG PANGKAH

Kegiatan rutin sambung rasa Gapoktan, kali ini dilaksanakan di desa Pangkah Kulon Kecamatan Ujung Pangkah - Gresik pada hari Rabu tanggal 5 Agustus 2015. Kegiatan yang digagas oleh badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian (BP4K) kabupaten Gresik ini dihadiri oleh Bapak Bupati Ir. Sambari Halim Radianto, MSi beserta Bpk. Wakil Bupati Muhammad Qosim.





Khusus Gapoktan Kec. Driyorejo menghadirkan Asosiasi Gapoktan Kec. Driyorejo sebanyak 1 (satu) bus atau kurang lebih 40 orang.
Tak rugi Gapoktan Driyorejo ber tret tet ke ujung pangkah, karena Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kec. Driyorejo tampil sebagai Juara III BP3K Terbaik tingkat Kabupaten Gresik. Hadiah yang diperoleh adalah seekor Sapi.


Disamping itu seluruh anggota Gapoktan sekaligus dapat refreshing dan rekreasi di Pantai Dalegan, pantai eksotis yang menjadi andalan wisata Kabupaten Gresik yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Lamongan.
God job...............!!!

Senin, 06 Juli 2015

PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG

Penyakit utama yang menyerang tanaman jagung dan petani kesulitan untuk mengatasi dan memberantasnya adalah penyakit Bulai. Penyakit bulai pada tanaman jagung begitu drastis menyerang disebabkan salah satunya adalah akibat perubahan iklim yang menuntut adanya varietas jagung yang adaptif terhadap perkembangan dinamika hama dan penyakit di lapangan. Penyakit bulai, merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Peningkatan suhu dan kelembaban akhir-akhir ini diperkirakan akan semakin mempercepat perkembangbiakan dan penyebaran spora bulai melalui media udara, tanah ataupun benih. Ciri umum yang ditimbulkan dari serangan bulai adalah munculnya butiran putih pada daun yang merupakan spora cendawan pathogen tersebut. Penyakit ini menyerang pada tanaman jagung varietas rentan hama penyakit dan umur muda (1-2 MST) maka kehilangan hasil akibat infeksi penyakit ini dapat mencapai 100% (Puso). Masa kritis tanaman jagung terserang bulai berlangsung sejak benih ditanam hingga usia 40 hari.
Upaya pencegahan yang dilakukan petani melalui perlakuan benih dengan fungisida berbahan aktif metalaksil dilaporkan tidak membawa hasil karena adanya efek resistensi atau kekebalan terhadap bahan aktif tersebut.

Gejala
Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada daun permukaan atas dan bawah terdapat warna putih seperti tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan

Penyebab dan Penyebarannya
Penyebab penyakit bulai di Indonesia yaitu jamur Peronosclerospora maydis, P. maydis umumnya menyerang tanaman jagung di Pulau Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Di bawah ini sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit bulai di lapangan:
  1. Penggunaan varietas tahan seperti jagung hibrida varietas Bima-1, Bima-3, Bima-9, Bima-14 dan Bima-15 serta jagung komposit varietas Lagaligo dan Lamuru.
  2. Periode bebas tanaman jagung hal ini dikhususkan kepada daerah-daerah endemik bulai di mana jagung ditanam tidak serempak, sehingga terjadi variasi umur yang menyebabkan keberadaan bulai di lapangan selalu ada, sehingga menjadi sumber inokulum untuk pertanaman jagung berikutnya.
  3. Sanitasi lingkungan pertanaman jagung sangat perlu dilakukan oleh karena berbagai jenis rumput-rumputan dapat menjadi inang bulai sehingga menjadi sumber inokulum pertanaman berikutnya.
  4. Rotasi tanaman dengan tujuan untuk memutus ketersediaan inokulum bulai dengan menanam tanaman dari bukan sereal.
  5. Eradikasi tanaman yang terserang bulai.
  6. Penggunaan fungisida (b.a. Metalaksil) sebagai perlakuan benih (seed treatment) untuk mencegah terjadinya infeksi bulai lebih awal dengan dosis 2,5 -5,0 g/kg benih.


Daftar Pustaka
 Azri, 2009, Teknologi Pengendalian Penyakit Bulai Tanaman Jagung, Badan Litbang Pertanian : Jakarta
Ruhendi, A. Iqbal, dan D. Soekarna. 1985. Hama Jagung di Indonesia. Dalam Hasil Penelitian Jagung, Sorgum dan Terigu 1980-1984. Risalah Rapat Teknis Puslitbangtan : Bogor

Kamis, 25 Juni 2015

PERTEMUAN GAPOKTAN SE KEC. DRIYOREJO

Pada hari Senin, Tgl. 8 Juni 2015, bertempat di rumah Bpk. haris ( Kios Pupuk Bahagia ) desa Banjaran, Kecamatan Driyorejo, dilaksanakan pertemuan rutin gapoktan se Kecamatan Driyorejo.
Hadir dalam pertemuan ini adalah Kepala UPT BP3K Kec. Driyorejo, Bpk. Totok Suprapto, SP, POPT Kec. Driyorejo, Bpk. H. Muhtadi, SP, Penyuluh Pertanian (Bpk. Sudaryanta, SP dan Bpk. Bambang P, SP) serta THL Bpk. Achmad Farid, SP.
Dari Gapoktan, hampir seluruh anggota Asosiasi Gapoktan Kecamatan Driyorejo hadir dalam pertemuan ini.
Hasil dari pertemuan ini adalah :
- Pertemuan agar dilaksanakan dengan banyak anggota yang hadir
- Pada bulan puasa pertemuan ditunda dan dilaksanakan setelah hari raya
- RDKK Pupuk agar segera dibuat dan disetorkan ke BP3K Kec. Driyorejo
- Waspada terhadap serangan H/P tanaman padi




Jumat, 08 Mei 2015

TANAM JARWO PADI

Bertanam Padi Jarwo di Tlapak dan Tenaru

Setelah panen di Musim Tanam Padi pertama, anggota kelompok tani yang ada di desa Randegan sari atau lebih tepatnya Poktan Tlapak dan dari desa Tenaru melaksanakan Musim Tanam Padi yang kedua dengan menggunakan sistem tanam Jarwo dan padi varietas ciherang.






Senin, 02 Maret 2015

Penyakit Blast pada Padi


PENYAKIT BLAST (Pyricularia Oryzae Cav) 
PADA TANAMAN PADI DAN PENGENDALIANNYA

PENDAHULUAN
Penyakit Blast (bercak belah ketupat) disebabkan oleh meluasnya serangan jamur Pyricularia oryzae (P. grisea). Jamur ini menyerang tanaman padi pada masa vegetatif menimbulkan gejala blas daun (leaf blast) dengan ditandai adanya bintik-bintik kecil pada daun berwarna ungu kekuningan. Semakin lama bercak menjadi besar, berbentuk seperti belah ketupat dengan bagian tengahnya berupa titik berwarna putih atau kelabu dengan bagian tepi kecoklatan. Serangan pada fase generatif menyebabkan pangkal malai membusuk, berwarna kehitaman dan mudah patah (busuk leher). Penyakit blas merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya padi karena bila terserang jamur Pyricularia oryzaeini bila tidak diwaspadai sejak awal akan mengakibatkan penurunan produksi hingga 70 %.

Gbr. Pengamatan Blast di desa Kesamben Wetan - Driyorejo
  FAKTOR-FAKTOR YANG  MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN BLAST
 Padi merupakan inang utama sebagai tempat berkembangnya  jamur Pyricularia oryzae sehingga apabila tanaman padi tumbuh serempak di suatu hamparan dan sudah pernah ada gejala serangan sebelumnya maka besar kemungkinan blast ini akan segera menyebar apabila didukung oleh kelembapan dan suhu optimum yaitu antara 24º C - 28º C.
Pyricularia oryzae  menyerap  nutrisi tanaman padi untuk memperbanyak diri dan mempertahankan hidup. Bila menyerang pada daun muda, menyebabkan proses pertumbuhan tidak normal, beberapa daun menjadi kering dan mati.  Blast pada daun banyak menyebabkan kerusakan antara fase pertumbuhan hingga fase anakan maksimum. Infeksi pada daun setelah fase anakan maksimum biasanya tidak menyebabkan kehilangan hasil yang terlalu besar, namun infeksi pada awal pertumbuhan sering menyebabkan puso terutama varietas yang rentan. Penggunaan fungisida pada fase vegetatif sangat dianjurkan apabila guna menekan tingkat intensitas serangan blas daun dan juga dapat mengurangi infeksi pada tangkai malai (blas leher).
Pemupukan unsur Nitrogen dimusim penghujan yang tinggi juga akan memicu pertumbuhan Pyricularia oryzae. Pemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi.
Penanaman padi terutama pada musim tanam rendengan/hujan haruslah ekstra hati-hati. Dengan curah hujan yang tinggi serta adanya faktor angin memicu perkembangan blas dapat meluas dengan cepat. Pengelolaan jarak tanam yang terlalu rapat juga akan mempengaruhi kecepatan perluasan penyakit ini.
Gambar. Pengamatan Blast di Kesamben Wetan
 USAHA-USAHA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
 Berikut adalah beberapa cara pencegahan dan Pengendalian:
1.  Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi .
Salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT(Organisme penggangu Tumbuhan) antara lain dengan jalan sebagai berikut :
a. Penggunaan varietas tahan & pembenaman jerami
Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : Inpari 13, Luk ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago dll.
Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang.
b. Pemupukan berimbang
Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan.
  c. Waktu tanam yang tepat
Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi. 
2.  Penggunaan Fungisida Kimia & Nabati
a.  Fungisida Kimia
Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna. Ada beberapa fungisida kimia yang bekerja secara sistemik di pasaran contoh :mikocide 70Trycyclazole, Amistartop, Score, Pyoguilon,Nelumbo 250 EC, Prima Vit,  dll.

b.   Fungisida Nabati
Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi.  Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana  dari bahan-bahan sederhana. Berikut ini adalah beberapa cara membuat Fungisida Nabati:

Cara I
 Bahan-bahan yang diperlukan (masing-masing 1-2 kg) :
1.  bawang putih
2.  temu ireng
3.  temu lawak
4.  umbi gadung
5.  kencur
  6.  kalau mau lebih mantap, bisa ditambah kunir  putih
  
Langkah pembuatan:
Cuci semua bahan dan tumbuk hingga halus dan campurkan jadi satu, campuran tersebut direndam dalam air bersih ± 5 liter air dalam wadah tertutup dan biarkan 3-4 hari hingga terjadi proses fermentasi setelah itu larutan diperas dan disaring dan siap digunakan.  Untuk aplikasi, larutkan biang fungisida ini dalam air bersih dengan perbandingan 1 bagian : 4/5 bagian.  Cara aplikasi bisa dengan disemprotkan ke tanaman yang terserang penyakit/belum (untuk pencegahan) dan atau dikocorkan langsung ke pangkal tanaman. Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC).  
 Cara II 
Bahan
1.   Lenkuas/ laos 1 kg
2.   Kunyit/kunir 1 kg
3.   Jahe 1 kg

Cara Pembuatan
1.  Ketiga bahan ditumbuk atau diparut
2.  Ambil sarinya dengan cara diperas
3.  Bahan siap digunakan untuk 2 sendok makan dicampur dengan air 10  15 liter.

Cara III
 Bahan :
1. Jahe 1 kg
2. Lengkuas 1 kg
3. Kunyit 1 kg
4. Labu siam 1kg
Caranya :
Keempat bahan tersebut diparut lalu diperas dan disaring diambil airnya. Masukkan air saringan tersebut ke dalam botol atau tempat air lainnya untuk persedian sewaktu-waktu. Untuk pemakaian campurlah setiap satu liter air dengan 20 cc larutan fungisida tersebut.  Jika diperlukan untuk bahan perekat lain dan sekaligus sebagai protein bagi tanaman maka tambahkan 2 butir telur ayam untuk campuran fungisida alami.

Cara IV
 Bahan
Daun Sirih 300 Gram (± 30 lembar daun)
Daun Jambu biji (± 30 lembar daun)
Lengkuas 300 Gram

Alat
Blender

Cara Pembuatan
Bahan-bahan dihancurkan dengan blender dengan sedikit air. Kemudian diperas diambil airnya. 3-5 sendok dicampur 10-15 liter air untuk disemprotkan.
 Cara V
Bahan :
Air Kelapa 7 liter
Susu segar 1 liter/ susu kaleng 1 buah
Kuning telur 7 butir
Madu 1 sendok makan
Gula 1 sendok makan
CIU (arak lokal) 1 liter bisa diganti dengan alcohol

Bahan-bahan tersebut dicampur dan dapat diaplikasikan dengan dosis 250 ml dicampur dengan air 10-14 liter (1 tangki)
 PENUTUP
Penyakit Blast pada padi bisa dicegah  sejak awal budidaya terutama bagi daerah endemi penyakit ini. Dengan bacaan  ini mudah-mudahan bisa memberikan petunjuk teknis dalam pencegahan dan pengendalian penyakit blast pada padi.  
 Sumber Data :

Minggu, 08 Februari 2015

Monev 10 Program Pokok PKK di Desa Driyorejo


Hari kamis, tanggal 5 Pebruari 2015, bertempat di Balai Desa Driyorejo, dilaksanakan Monitoring dan Evaluasi 10 Program pokok PKK.
Hadir dalam monev ini adalah Ketua PKK Kabupaten Gresik, Ibu Hj. Maria Ulfa Sambari Halim Radianto (Ibu Bupati Gresik), Ibu Moh. Kosim (Wabup), Dinas Petanian, BP4K, Ketahanan Pangan, Instansi terkait, Camat, Kepala Desa se kec. driyorejo, Penyuluh Pertanian Driyorejo, dan lain lain.











Kamis, 22 Januari 2015

Pencanangan tanam jagung oleh Kodim 0817 Gresik

Pencanangan tanam jagung dilaksanakan di lahan Kodam V Brawijaya di desa Wedoro Anom Kecamatan Driyorejo Gresik. Gerakan tanam jagung ini merupakan salah satu upaya untuk meraih swasembada pangan dengan melibatkan unsur TNI di dalamnya.
Pencanangan tanam jagung seluas 10 hektar ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 22 Januari 2015 dengan dihadiri oleh danrem, dandim Gresik, danramil, Kapolsek, camat, BP3K Kec. Driyorejo, Mantri tani, Penyuluh Pertanian dan PT. Petrokimia Gresik.